Tips Memilih Supplier Impor UMKM Indonesia Terpercaya

Memulai impor sering terasa menegangkan, apalagi ketika skala usaha masih UMKM. Pertanyaan yang paling menentukan biasanya sederhana: siapa pemasok yang tepat? Di sinilah frasa supplier impor UMKM Indonesia menjadi kunci, karena kualitas mitra akan berpengaruh langsung pada margin, reputasi, dan kelancaran stok.

Artikel ini membahas langkah yang realistis untuk memilih pemasok dari luar negeri—mulai dari menyusun kebutuhan, memeriksa kredibilitas, menilai kualitas, sampai menegosiasikan term yang aman. Fokusnya bukan hanya “dapat harga murah”, tetapi bagaimana UMKM bisa membangun rantai pasok yang stabil, terukur, dan siap berkembang.

Mengapa Pemilihan Supplier Impor Sangat Menentukan

Dalam konteks impor, kesalahan memilih pemasok bisa berlipat dampaknya: barang terlambat datang, kualitas tidak konsisten, klaim garansi sulit, atau biaya tambahan muncul mendadak. Bagi UMKM, satu batch barang bermasalah saja bisa mengganggu cash flow berbulan-bulan karena modal kerja biasanya terbatas.

supplier impor UMKM Indonesia

Selain itu, impor adalah permainan detail. Hal kecil seperti spesifikasi kemasan, toleransi ukuran, pilihan material, dan standar label dapat memicu komplain pelanggan. Jika pemasok tidak responsif, UMKM sering “terkunci”: stok sudah dibayar, tetapi produk tidak bisa dijual sesuai rencana. Karena itu, pemilihan pemasok sebaiknya diperlakukan sebagai investasi, bukan sekadar transaksi.

Fondasi Awal: Pahami Rantai Pasok dan Target Bisnismu

Sebelum mencari pemasok, pahami dulu gambaran rantai pasok sederhana untuk bisnismu: dari pemasok, pengiriman, gudang, sampai penjualan. Dengan begitu kamu bisa menilai supplier bukan hanya dari harga, tetapi dari kemampuan mereka “masuk” ke sistem operasionalmu.

Di tahap ini, susun tiga hal: (1) produk inti yang paling sering bergerak, (2) batas aman biaya landed cost (harga barang + ongkir + pajak/biaya lain), dan (3) standar kualitas minimal. Tanpa fondasi ini, kamu mudah tergoda harga murah tetapi akhirnya rugi di biaya tersembunyi atau retur.

Langkah 1: Buat Spesifikasi Produk yang Tidak Menyisakan Tafsir

Supplier yang baik akan bertanya detail, bukan langsung menawarkan harga. Agar diskusi berjalan sehat, buat spesifikasi produk sedetail mungkin. Ini beberapa elemen yang sebaiknya tertulis:

  • Ukuran, bahan, warna, dan toleransi (misalnya toleransi panjang ±2 mm).
  • Fungsi dan konteks pemakaian (produk dipakai indoor/outdoor, tahan panas, tahan air, dsb.).
  • Standar kualitas (contoh: grade material, finishing, ketebalan, kekuatan jahitan, atau ketahanan baterai).
  • Kemasan dan label (jenis kotak, polybag, barcode, label bahasa Indonesia, dan instruksi).
  • Kuantitas (MOQ target, rencana repeat order, dan target lead time).

Spesifikasi yang jelas membantu kamu membandingkan penawaran antar pemasok secara adil. Ini juga mengurangi risiko “barang datang beda” karena asumsi berbeda di awal.

Langkah 2: Tentukan Kriteria Supplier Impor UMKM Indonesia yang Ideal

Setiap kategori produk memiliki karakter berbeda. Namun, secara umum, UMKM bisa memakai kriteria berikut sebagai “filter awal” ketika menilai calon supplier:

  • Kesesuaian skala: supplier nyaman melayani order kecil-menengah dan mau bertumbuh bersama.
  • Konsistensi kualitas: mampu menjaga kualitas antar batch, bukan bagus hanya di sampel.
  • Komunikasi cepat dan jelas: respons di jam kerja, bahasa yang bisa dipahami, dan tidak menghindari pertanyaan teknis.
  • Transparansi: bersedia berbagi foto proses produksi, video, atau dokumen dasar yang relevan.
  • Rekam jejak: punya pengalaman ekspor, familiar dengan dokumen pengiriman, dan paham standar kemasan.

Dengan kriteria ini, kamu tidak perlu menunggu sampai rugi untuk sadar bahwa supplier yang “murah” ternyata mahal di belakang.

Langkah 3: Sumber Mencari Supplier yang Aman untuk Pemula

Ada beberapa jalur pencarian pemasok. Masing-masing punya kelebihan dan risikonya sendiri:

1) Marketplace B2B dan katalog pemasok

Marketplace B2B memudahkan perbandingan harga, MOQ, dan review. Namun, selalu lakukan verifikasi tambahan karena tidak semua listing mewakili pabrik asli—bisa saja trader atau perantara.

2) Pameran dagang dan expo

Expo memberi kesempatan melihat contoh produk secara langsung dan bertemu tim sales. Kelebihannya: kamu bisa menilai keseriusan vendor dari cara mereka menjawab detail teknis dan menyediakan portofolio.

3) Rekomendasi komunitas dan jaringan

Rujukan dari pebisnis yang sudah pernah impor bisa menghemat waktu. Tetap lakukan audit versi kamu, karena kebutuhan tiap bisnis berbeda.

4) Sourcing agent / pihak ketiga

Untuk produk yang kompleks atau pemasok yang sulit diverifikasi, agen bisa membantu audit pabrik, negosiasi, dan kontrol kualitas. Pastikan struktur fee jelas sejak awal agar tidak terjadi konflik kepentingan.

Langkah 4: Bedakan Pabrik, Trader, dan Distributor

Banyak UMKM mengira semua pemasok adalah pabrik. Padahal ada beberapa tipe:

  • Pabrik: produksi sendiri. Cocok untuk kontrol kualitas dan kemungkinan custom, tetapi kadang punya MOQ lebih tinggi.
  • Trader: mengumpulkan produk dari beberapa pabrik. Cocok untuk variasi barang dan MOQ lebih fleksibel, namun kontrol kualitas harus lebih ketat.
  • Distributor/wholesaler: stok barang jadi. Cocok untuk kebutuhan cepat, tetapi custom terbatas.

Tujuanmu bukan selalu “harus pabrik”, melainkan memilih model yang paling cocok dengan strategi produk dan kapasitas modal.

Langkah 5: Checklist Verifikasi Kredibilitas (Tanpa Ribet)

Sebelum membayar apa pun, lakukan verifikasi berlapis. Kamu tidak perlu jadi auditor profesional, tetapi minimal lakukan langkah berikut:

  • Profil perusahaan: minta nama legal, alamat, website resmi, dan kontak kantor.
  • Dokumen dasar: minta business license atau dokumen registrasi perusahaan yang umum dipakai di negara asal.
  • Jejak digital: cek apakah perusahaan muncul konsisten di beberapa sumber (website, katalog, media sosial, alamat di peta).
  • Video call: minta tur singkat gudang/ruang sampel. Ini sederhana tetapi efektif mengurangi risiko “perusahaan fiktif”.
  • Referensi pelanggan: jika memungkinkan, minta testimoni atau negara tujuan ekspor yang pernah mereka layani.

Pemasok yang sehat biasanya tidak keberatan ditanya. Jika mereka menghindar terus, itu sinyal untuk berhenti sebelum terlambat.

Langkah 6: Uji Sampel dengan Cara yang Mengungkap Masalah Tersembunyi

Kesalahan umum UMKM adalah menilai supplier hanya dari foto. Sampel adalah “biaya belajar” yang jauh lebih murah dibanding salah satu kontainer barang. Saat uji sampel, lakukan ini:

  • Bandingkan beberapa supplier: minimal 2–3 sampel agar kamu punya pembanding kualitas.
  • Uji penggunaan nyata: pakai sampel seperti pelanggan memakainya (uji jatuh, uji panas, uji cuci, uji baterai, dsb.).
  • Uji kemasan: kemasan yang lemah bisa membuat produk rusak di perjalanan.
  • Catat detail: buat tabel internal untuk mencatat kekurangan, bau material, finishing, ukuran, dan konsistensi.

Jika sampel saja sudah banyak masalah, jangan berharap batch produksi akan lebih baik tanpa pengawasan ekstra.

Langkah 7: Hitung Landed Cost Secara Jujur (Bukan Hanya Harga Barang)

Harga per unit dari supplier sering terlihat menarik. Tetapi untuk UMKM, keputusan seharusnya berdasarkan landed cost: total biaya sampai barang siap dijual. Komponen yang sering dilupakan:

  • Ongkir internasional dan biaya lokal (handling, trucking, gudang sementara).
  • Asuransi pengiriman.
  • Biaya dokumen dan administrasi.
  • Pajak/biaya kepabeanan (tergantung jenis barang dan kebijakan).
  • Biaya inspeksi/quality control bila diperlukan.

Dengan landed cost, kamu bisa menentukan harga jual yang realistis dan menjaga margin. Supplier terbaik bukan yang termurah, tetapi yang membuat perhitunganmu paling stabil.

Langkah 8: Pahami Incoterms dan Pembagian Tanggung Jawab

Incoterms memengaruhi siapa yang menanggung biaya dan risiko di titik tertentu. Bahkan jika kamu tidak menghafal semuanya, pahami konsepnya: ada term yang membuat supplier mengurus lebih banyak, dan ada yang membuat kamu memegang kontrol lebih besar atas pengiriman.

Untuk UMKM pemula, pilih term yang membuat tanggung jawab jelas dan mengurangi kejutan biaya. Tanyakan juga: di pelabuhan mana barang diserahkan? siapa membayar biaya di masing-masing titik? dan kapan risiko berpindah dari supplier ke pembeli? Semakin jelas jawabannya, semakin mudah kamu mengelola risiko.

Langkah 9: Negosiasi yang Sehat: Fokus pada Nilai, Bukan Sekadar Diskon

Negosiasi dengan pemasok luar negeri tidak harus agresif. Banyak supplier menghargai pembeli yang rapi dan konsisten. Hal yang bisa dinegosiasikan tanpa “mengorbankan kualitas” antara lain:

  • MOQ bertahap: mulai kecil untuk uji pasar, lalu naik di repeat order.
  • Lead time: pastikan jadwal produksi dan tanggal siap kirim tertulis jelas.
  • Packaging: kemasan standar vs custom, serta biaya tambahannya.
  • Spare parts/bonus: untuk produk tertentu, minta cadangan 1–3% untuk menutup risiko cacat minor.
  • Skema harga: harga berbeda untuk volume berbeda, bukan hanya satu angka.

Diskon memang menarik, tetapi konsistensi kualitas dan ketepatan waktu biasanya lebih berdampak pada profit jangka panjang.

Langkah 10: Pilih Metode Pembayaran yang Aman untuk UMKM

Pembayaran adalah area paling rawan. Prinsipnya: semakin besar nominal, semakin kuat perlindungan yang kamu butuhkan. Beberapa praktik yang relatif aman untuk UMKM:

  • Escrow / platform berproteksi untuk transaksi awal, jika tersedia.
  • DP + pelunasan setelah QC: misalnya 30% DP, 70% setelah inspeksi atau sebelum ship.
  • Dokumen tertulis: invoice, detail rekening yang sesuai nama perusahaan, dan konfirmasi melalui kanal resmi.

Hindari mengirim uang ke rekening pribadi jika di awal komunikasi kamu berurusan dengan perusahaan. Kalau supplier meminta perubahan rekening mendadak, anggap itu alarm dan lakukan verifikasi ulang.

Langkah 11: Bangun Sistem Kontrol Kualitas yang Proporsional

UMKM tidak harus punya tim QC besar, tetapi perlu sistem. Minimal tentukan standar cacat yang bisa diterima (AQL sederhana), cek titik kritis, dan minta foto/video sebelum pengiriman. Untuk order yang lebih besar, pertimbangkan inspeksi pihak ketiga, terutama jika produk menyangkut keselamatan atau klaim kualitas tinggi.

Kontrol kualitas bukan berarti tidak percaya supplier. Justru supplier profesional terbiasa dengan inspeksi karena itu bagian dari bisnis. Dengan standar yang jelas, hubungan kerja menjadi lebih tenang: semua pihak tahu definisi “lulus” dan “tidak lulus”.

Langkah 12: Pastikan Dokumen, Label, dan Kepatuhan Sejak Awal

Banyak kendala impor terjadi bukan di pabrik, tetapi di dokumen dan kepatuhan. Karena itu, sebelum produksi massal, diskusikan hal-hal berikut:

  • Deskripsi barang di invoice harus sesuai dan tidak “mengaburkan” jenis produk.
  • Packing list harus konsisten dengan jumlah dan berat.
  • Label (misalnya bahasa Indonesia, komposisi, petunjuk penggunaan) jika produkmu memerlukannya.
  • Sertifikat tertentu bila kategori produk mengharuskannya.

Jika kamu bekerja dengan forwarder atau konsultan kepabeanan, libatkan mereka sejak awal agar kamu tidak membetulkan dokumen di menit terakhir.

Langkah 13: Red Flag yang Wajib Diwaspadai

Dalam memilih supplier, kamu akan menemukan penawaran yang terlalu bagus untuk jadi kenyataan. Berikut tanda bahaya yang sering muncul:

  • Harga jauh di bawah rata-rata pasar tanpa penjelasan spesifikasi.
  • Menolak memberikan sampel atau selalu menunda pengiriman sampel.
  • Jawaban berubah-ubah tentang MOQ, lead time, atau material.
  • Menghindari video call atau tidak bisa menunjukkan fasilitas dasar.
  • Meminta pembayaran cepat dengan alasan “promo hari ini saja”.

Jika kamu melihat beberapa red flag sekaligus, lebih baik mundur dan cari kandidat lain. Waktu yang hilang untuk mencari ulang biasanya lebih murah daripada kerugian finansial dan stres operasional.

call to action LSPUMKM WI 2

Contoh Alur Praktis Memilih Supplier Impor UMKM Indonesia

Agar lebih mudah dipraktikkan, berikut contoh alur sederhana untuk UMKM yang ingin menetapkan supplier impor UMKM Indonesia sebagai mitra utama:

  1. Susun spesifikasi produk dan batas landed cost.
  2. Cari 10 kandidat, lakukan screening menjadi 3–4 kandidat berdasarkan komunikasi dan portofolio.
  3. Minta sampel dari 2–3 kandidat terbaik, lakukan uji penggunaan nyata.
  4. Negosiasi term (MOQ, lead time, packaging, skema pembayaran) dengan 1–2 kandidat final.
  5. Lakukan order kecil sebagai “pilot”, buat checklist QC, dokumentasikan hasil.
  6. Jika pilot sukses, lanjutkan repeat order dan perbaiki SOP komunikasi & inspeksi.

Alur ini membantu UMKM belajar cepat, tapi tetap mengurangi risiko. Fokusnya bukan mencari yang sempurna, melainkan membangun proses yang membuat kesalahan cepat terdeteksi.

Strategi Jangka Panjang: Jangan Bergantung pada Satu Pemasok

Bahkan supplier terbaik pun bisa mengalami masalah: pabrik overload, bahan baku langka, atau perubahan kebijakan pengiriman. Karena itu, punya pemasok cadangan adalah strategi bertahan hidup. Untuk UMKM, minimal siapkan “plan B”: satu pemasok alternatif yang sudah pernah kamu uji sampelnya.

Selain itu, dokumentasikan semua keputusan: spesifikasi, foto sampel, hasil QC, timeline, dan catatan negosiasi. Dokumentasi membuat bisnis kamu lebih tahan guncangan, dan memudahkan tim ketika volume order meningkat.

Langkah 14: Atur Skema Pengiriman dan Asuransi Sejak Negosiasi

Selain harga barang, pola pengiriman sangat memengaruhi arus kas. Pengiriman udara biasanya lebih cepat, tetapi biaya per kilogram jauh lebih tinggi. Pengiriman laut lebih ekonomis untuk volume besar, namun butuh perencanaan stok yang lebih rapi karena lead time lebih panjang. Untuk UMKM, pilihan terbaik sering bergantung pada tiga hal: kecepatan perputaran barang, nilai barang per unit, dan kemampuan modal menunggu.

Apa pun moda pengiriman yang kamu pilih, pertimbangkan asuransi. Banyak pebisnis pemula menyepelekan asuransi karena ingin menekan biaya, padahal kerusakan atau kehilangan di perjalanan bisa langsung “menghapus” margin satu batch. Dengan asuransi, kamu mengubah risiko besar menjadi biaya kecil yang terukur.

Langkah 15: Buat Kontrak Sederhana yang Melindungi Kedua Pihak

Kontrak tidak harus tebal. Untuk transaksi UMKM, dokumen singkat pun sudah membantu, asalkan memuat hal-hal inti: spesifikasi, kuantitas, harga, jadwal produksi, term pengiriman, standar QC, penalti atau solusi jika barang tidak sesuai, serta mekanisme penyelesaian sengketa. Cantumkan juga siapa PIC komunikasi dan kanal resmi yang digunakan agar tidak terjadi miskomunikasi.

Kontrak yang jelas justru membuat hubungan lebih baik, karena ekspektasi ditulis sejak awal. Ini penting terutama ketika kamu mulai menetapkan supplier impor UMKM Indonesia sebagai mitra jangka panjang dan volume order meningkat.

Memanfaatkan Alat Digital Agar Proses Impor Lebih Rapi

Impor yang rapi membutuhkan pencatatan yang rapi. Kamu bisa mulai dari hal sederhana: folder dokumen berbasis cloud, template purchase order, spreadsheet landed cost, dan checklist inspeksi. Semakin rapi sistemmu, semakin mudah menilai supplier dan mengulang proses tanpa stres.

Jika kamu ingin mempercepat operasional harian UMKM, gunakan teknologi yang sederhana namun berdampak—misalnya pencatatan transaksi, manajemen stok, hingga komunikasi pelanggan yang lebih tertata. Proses impor akan jauh lebih aman ketika data penjualan dan perputaran stok terbaca jelas.

Baca Juga: Teknologi Sederhana UMKM Indonesia: Bikin Bisnis Efisien

Penutup

Memilih pemasok luar negeri memang butuh ketelitian, tetapi bukan berarti UMKM harus takut memulai. Dengan spesifikasi yang jelas, verifikasi berlapis, uji sampel, perhitungan landed cost, dan skema pembayaran yang aman, kamu bisa membangun proses impor yang stabil dari order kecil hingga skala lebih besar.

Pada akhirnya, tujuanmu bukan sekadar “bisa impor”, melainkan punya sistem yang membuat bisnis tetap sehat. Saat kamu memperlakukan pemilihan supplier impor UMKM Indonesia sebagai proyek strategis—bukan transaksi sesaat—kamu akan lebih siap menghadapi risiko, menjaga kualitas, dan bertumbuh konsisten.

Leave a Comment

Rating

Uji Kompetensi metodologi, penguasaan materi pelatihan dan praktek penyampaian modul (delivery). Selanjutnya untuk memperoleh akreditasi (Sertifikat Akreditasi Fasilitator), fasilitator mendelivery modul yang dikuasai minimal 2 kali dalam pelatihan yang diselenggarakan oleh Mitra Penyelenggara Pelatihan, dengan nilai minimal 70% atau rating 3,5 dengan range antara 1 – 5. Setiap penugasan pelatih oleh Mitra Penyelenggara Pelatihan telah disertai persetujuan dari LSP UMKM & WI.

Bimbingan

Dalam bimbingan ini dijelaskan alur Uji Kompetensi yang dilaksanakan oleh LSP UMKM & WI . Kemudian, dilanjutkan dengan pendaftaran  untuk mendapatkan akun yang akan digunakan dalam sistem uji kompetensi LSP UMKM & WI . Pada sesi berikutnya, para peserta akan mendapat bimbingan untuk menggunakan sistem uji kompetensi tersebut hingga proses penilaian.

Sertifikasi

Sertifikasi Kompetensi Kerja adalah Proses pemberian sertifikat kompetensi yang dilakukan secara sistematis dan objektif melalui uji kompetensi yang mengacu kepada standar kompetensi. Terkait dengan Standard Kompetensi Kerja telah ditetapkan Standard Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Pengawas Syariah berdasarkan Keputusan Menteri Ketenagakerjaan RI Nomor 25 Tahun 2017. Sedangkan SKKNI itu sendiri adalah Rumusan kemampuan kerja yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan/atau keahlian serta sikap kerja yang relevan dengan pelaksanaan tugas dan syarat jabatan yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

SERTIFIKASI PENILAIAN DIAKUI INTERNASIONAL

Dengan lisensi resmi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi atau (BNSP) yang
dibentuk  Pemerintah  untuk melaksanakan ketentuan Pasal 18 ayat (5) Undang-Undang
Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, Lembaga Sertifikasi Profesi atau (LSP)
menjamin mutu kompetensi dan pelatihan Tenaga Kerja pada seluruh sektor bidang profesi
di seluruh Indonesia.

Sertifikat yang akan Anda dapatkan juga akan diakui oleh dunia Internasional, sehingga
kualitasnya tidak perlu diragukan lagi. Karena dengan memiliki sertifikasi profesi dari LSP
yang telah mendapatkan lisensi resmi dari BNSP, Anda mempunyai sebuah bukti kuat
bahwa Anda memang berkompeten dalam profesi yang Anda geluti. Itu juga memastikan
bahwa Anda mempunyai kemampuan yang mumpuni sebagai seorang profesional.

Sertifikasi kompetensi ini bisa Anda dapatkan melalui pelatihan dari LSP yang mempunyai
lisensi resmi dari BNSP. Dan LSP UMKM & WI, merupakan salah satu LSP yang bisa
membantu Anda untuk mewujudkan keinginan Anda dalam mendapatkan sertifikasi profesi
tersebut.

SERTIFIKASI KOMPETISI KASIR RETAIL

Sumber daya manusia (SDM) memainkan peranan yang sangat vital dalam menentukan
keberhasilan operasional toko. Sumber Daya Manusia (SDM) atau pengelola toko haruslah
mumpuni dan cekatan. Implementasi sistem komputerisasi yang semakin canggih dan
keharusan untuk menjalankan rangkap atau fungsi pekerjaan (multi-tasking) maka karyawan
toko juga harus memiliki kemampuan berhitung (matematika) yang baik, dan kemampuan
untuk bias berbahasa asing tentunya (minimal Bahasa Inggris).

Untuk itu pentingnya melakukan pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM) sebelum terjun
langsung ke dalam dunia kerja. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas Sumber
Daya Manusia (SDM) itu sendiri. Apabila Sumber Daya Manusia (SDM) telah tersetifikasi,
selain dapat menentukan keberhasilan toko, para Sumber Daya Manusia (SDM) tersebut
diharapkan mampu untuk bersaing dengan para tenaga kerja asing.

Perlu diingat bahwa bisnis minimarket ataupun retail dan toko adalah bisnis penjualan.
Jadi,segenap karyawan harus memiliki kualitas internal yang sejalan dan mendukung
peranannya sebagai penjual. Kualitas ini meliputi kepribadian (threat), sikap, (attitude),
motivasi dan nilai-nilai (values). Untuk itu pentingnya melakukan pelatihan Sumber Daya
Manusia (SDM).

JADIKAN SERTIFIKASI PENGELOLAAN UKM

Pada era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) ini, kompetensi menjadi syarat yang harus
dipenuhi untuk meningkatkan daya saing bangsa. Sejalan dengan itu, Kementerian Koperasi
dan UKM RI, terus berupaya meningkatkan kompetensi UMKM, salah satunya melalui
kegiatan sertifikasi kompetensi UKM. Kegiatan ini berupa memfasilitasi pelatihan serta
sertifikasi kompetensi bagi para pelaku UMKM.

Tujuannya untuk meningkatkan daya saing, mengingat pemberlakuan MEA akan sangat
berpengaruh kepada masuknya tenaga  kerja  asing yang mengakibatkan persaingan
menjadi semakin ketat. Standarisasi dan sertifikasi ini menjadi sangat penting diketahui oleh
para pelaku UKM. Karena selain meningkatkan daya saing, standarisasi adalah upaya untuk
menjaga kualitas produk.

Sertifikasi ini juga berguna sebagai bentuk penyesuaian dan upaya UKM untuk
menunjukkan kepada dunia jika telah memiliki standar tertentu, hingga pengembangan
usaha dapat dikembangkan menjadi lebih luas. Apabila produk telah tersertifikasi maka
konsumen akan semakin yakin, karena produk tersebut sudah pasti terjamin. Itulah alasan
mengapa standarisasi dan sertifikasi saat ini menjadi sangat penting diketahui oleh para
pelaku UKM.