Strategi Pengembangan Produk Kecantikan UMKM Indonesia

Pasar kecantikan di Indonesia sedang bergerak cepat: konsumen semakin kritis, tren berganti lebih sering, dan brand lokal makin dipercaya. Bagi pelaku produk kecantikan UMKM Indonesia, kondisi ini adalah peluang besar sekaligus tantangan. Peluangnya: Anda bisa masuk dengan diferensiasi yang kuat dan cerita yang relevan. Tantangannya: produk harus aman, legal, konsisten kualitasnya, dan mampu “berbicara” di rak toko maupun di layar ponsel.

Artikel ini membahas langkah-langkah praktis pengembangan produk kecantikan buatan lokal untuk UMKM—mulai dari riset pasar, formulasi, uji stabilitas sederhana, strategi produksi, hingga cara mempersiapkan merek agar siap dipasarkan dan layak diiklankan. Tujuannya bukan sekadar “bisa produksi”, tetapi membuat produk yang punya alasan dibeli, diulang pembeliannya, dan bertahan menghadapi kompetitor.

Produk Kecantikan UMKM Indone

Memahami Realita Pasar Kecantikan Lokal

Sebelum membuat varian baru, pahami cara konsumen mengambil keputusan. Banyak orang membeli karena kombinasi empat hal: kebutuhan (misalnya jerawat, kulit kusam, atau rambut rontok), kepercayaan (aman dan teruji), pengalaman (tekstur, aroma, hasil), dan identitas (brand terasa “gue banget”). Jika salah satu faktor ini lemah, konversi biasanya turun.

Di sisi lain, UMKM sering terjebak membuat produk “ikut tren” tanpa validasi. Padahal tren bisa berubah sebelum stok habis. Jalan yang lebih aman adalah menemukan segmen yang jelas—misalnya skincare untuk kulit sensitif tropis, bodycare untuk pekerja outdoor, atau haircare untuk hijabers—lalu membangun keunggulan yang konsisten.

Menentukan Arah Produk: Siapa, Masalah Apa, dan Nilai Apa

Langkah pertama adalah merumuskan tiga kalimat sederhana:

1) Target pengguna: siapa yang paling mungkin membeli? (contoh: perempuan 20–35 tahun, aktif bekerja, tinggal di kota besar, kulit kombinasi).
2) Masalah utama: satu masalah yang paling ingin diselesaikan (contoh: kusam dan tidak merata).
3) Nilai utama: alasan rasional + emosional mengapa produk Anda lebih cocok (contoh: formula ringan untuk iklim lembap, hasil terlihat bertahap, aroma menenangkan, kemasan travel friendly).

Jika Anda hanya menuliskan “untuk semua orang”, biaya pemasaran akan mahal karena pesan menjadi terlalu umum. Sebaliknya, ketika target dan problemnya tajam, konten dan iklan lebih mudah “menemukan” audiens yang tepat.

Riset Pasar yang Bisa Dilakukan UMKM Tanpa Biaya Besar

Riset tidak harus rumit. Anda bisa mulai dengan sumber yang sudah ada di sekitar Anda:

1) Observasi marketplace dan ulasan konsumen

Pilih 10 produk terlaris di kategori Anda, lalu baca 200–300 ulasan secara acak. Catat pola: keluhan apa yang paling sering muncul (misalnya lengket, perih, cepat oksidasi), dan pujian apa yang paling sering disebut (misalnya cepat meresap, wangi lembut, membuat kulit terasa “plumpy”). Dari sini, Anda memperoleh daftar fitur yang wajib ada dan fitur yang sebaiknya dihindari.

2) “Social listening” sederhana

Gunakan pencarian di media sosial untuk kata seperti “review”, “cocok untuk”, “tidak cocok”, “breakout”, atau “rekomendasi”. Fokus pada bahasa sehari-hari. Kata-kata itulah yang kelak Anda pakai untuk copywriting, karena itu bahasa konsumen, bukan bahasa pabrik.

3) Wawancara mini 15 menit

Undang 10 orang yang sesuai target, tanyakan: produk apa yang paling sering dibeli, apa yang mereka suka, dan apa yang membuat mereka berhenti memakai produk tertentu. Anda akan kaget betapa sering jawaban mereka menyangkut hal kecil seperti tutup mudah bocor, pump seret, atau aroma terlalu tajam.

Hasil riset ini sebaiknya dirangkum menjadi “brief produk”: klaim utama, tekstur, aroma, bentuk kemasan, kisaran harga, serta 3 pembeda yang realistis.

Formulasi dan Bahan: Menyeimbangkan Tren, Keamanan, dan Biaya

Dalam dunia kosmetik, formulasi adalah jantung produk. Namun untuk UMKM, formulasi juga harus realistis: bahan harus tersedia, biaya terkendali, dan proses produksi bisa diulang dengan konsisten. Jangan terpaku pada bahan viral saja. Yang lebih penting adalah apakah bahan tersebut sesuai fungsi, aman, dan stabil dalam formula.

Prinsip yang membantu: pilih 1–2 “hero ingredients” yang mudah dijelaskan, lalu dukung dengan bahan pendamping yang membuat pengalaman pemakaian enak (misalnya humektan untuk hidrasi, emolien untuk kelembutan, dan pengawet yang sesuai). Konsumen jarang membeli karena daftar bahan panjang, mereka membeli karena klaimnya jelas dan hasilnya terasa.

Memanfaatkan kekuatan bahan lokal

Indonesia kaya bahan yang bisa diangkat secara storytelling—misalnya minyak kelapa, lidah buaya, atau rempah tertentu. Namun pastikan Anda tidak membuat klaim berlebihan. Lebih aman menekankan manfaat kosmetik yang umum, seperti membantu menjaga kelembapan, membuat kulit terasa lebih halus, atau membantu melindungi skin barrier, dibanding menjanjikan “menghilangkan” suatu kondisi medis.

Prototipe Cepat: Dari Ide ke Sampel yang Bisa Diuji

Setelah brief produk siap, buat prototipe (sampel awal). Jika Anda memiliki tim formulasi sendiri, prosesnya bisa lebih cepat. Jika tidak, Anda bisa bekerja sama dengan maklon atau laboratorium formulasi. Kuncinya adalah iterasi: buat sampel, uji, perbaiki, ulangi.

Uji sederhana yang dapat dilakukan UMKM sebelum skala produksi:

• Uji kenyamanan: 20 orang mencoba 7–14 hari, catat rasa lengket, rasa perih, dan kepuasan tekstur.
• Uji stabilitas visual: simpan sampel di suhu ruang dan tempat lebih hangat, lihat perubahan warna, aroma, atau pemisahan fase.
• Uji kemasan: cek kebocoran, kekuatan seal, dan kemudahan pemakaian sehari-hari.

Dengan uji seperti ini, Anda bisa menghindari kesalahan mahal: produksi ribuan unit lalu baru sadar pump mudah macet atau aroma berubah setelah seminggu.

Memilih Jalur Produksi: In-house atau Maklon

UMKM biasanya memilih salah satu dari dua jalur:

1) Produksi in-house

Keunggulannya kontrol penuh dan fleksibilitas batch kecil. Namun Anda perlu investasi alat, SOP ketat, sumber daya manusia terlatih, serta manajemen kualitas yang disiplin. Risiko terbesar adalah inkonsistensi: batch A enak, batch B beda tekstur, batch C berubah aroma.

2) Maklon (kontrak manufaktur)

Maklon cocok jika Anda ingin fokus pada brand, pemasaran, dan distribusi. Pastikan pabrik memiliki standar dan sertifikasi yang relevan, serta komunikasi yang transparan. Di Indonesia, istilah maklon juga dikenal dalam konteks pembuatan produk untuk pemilik merek lain. Kunci sukses maklon adalah brief yang rapi, target harga yang jelas, dan kesepakatan mutu sejak awal.

Tips praktis memilih partner produksi: minta sampel, kunjungi fasilitas jika memungkinkan, cek portofolio kategori yang sama, dan tanyakan minimum order quantity (MOQ) serta lead time realistis. Hindari mengejar MOQ terlalu kecil jika membuat harga per unit melambung; lebih baik rilis varian terbatas dengan strategi pre-order untuk memvalidasi permintaan.

Legalitas dan Keamanan: Fondasi Kepercayaan Konsumen

Produk kecantikan yang laris biasanya punya satu kesamaan: konsumen percaya. Kepercayaan itu tumbuh dari kualitas, testimoni, dan juga kepatuhan terhadap regulasi. Karena itu, sejak awal Anda perlu paham jalur legalitas dan dokumentasi. Di Indonesia, pengawasan peredaran obat dan makanan—termasuk kosmetik—berkaitan dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan. Pastikan tim Anda memahami alur perizinan, penandaan (label), serta praktik produksi yang higienis dan terdokumentasi. Semakin rapi dokumen dan proses Anda, semakin mudah membangun kepercayaan dan memperluas channel penjualan.

Hal yang perlu dipersiapkan sejak awal:

• Informasi formula dan komposisi yang jelas.
• Data pemasok bahan untuk penelusuran (traceability).
• Draft label termasuk cara pakai, peringatan, dan isi bersih (netto).
• Bukti klaim secukupnya (misalnya hasil uji sederhana atau referensi fungsi bahan), tanpa membuat klaim berlebihan.

Dengan fondasi ini, Anda akan lebih siap saat mulai memperbesar skala produksi dan memperluas channel penjualan.

Membangun Sistem Mutu: Konsistensi Itu Produk Kedua Anda

Banyak UMKM mengira “produk bagus” hanya soal formula. Padahal, konsistensi kualitas adalah produk kedua yang tak terlihat. Konsumen bisa memaafkan packaging sederhana, tetapi sulit memaafkan kualitas yang berubah-ubah. Karena itu, buat sistem mutu minimal:

1) SOP bahan baku: standar penerimaan bahan (warna, bau, tanggal kedaluwarsa, COA jika ada).
2) SOP produksi: urutan pencampuran, suhu, waktu aduk, dan catatan batch (batch record).
3) SOP pengemasan: kebersihan, kontrol isi, dan pemeriksaan visual.
4) SOP komplain: cara menerima, menganalisis, dan menutup kasus komplain.

Jika Anda bekerja dengan maklon, minta ringkasan kontrol mutu dan pastikan ada mekanisme untuk menolak barang yang tidak sesuai spesifikasi.

Desain Kemasan: Bukan Sekadar Cantik, Tapi Menjual

Kemasan adalah “salesperson” yang selalu bekerja. Pada produk kecantikan, kemasan menentukan persepsi kualitas bahkan sebelum produk dicoba. Ini beberapa prinsip kemasan untuk UMKM:

• Hierarki informasi jelas: merek, jenis produk, manfaat utama, baru detail lainnya.
• Keterbacaan: font nyaman dibaca, kontras cukup, tidak terlalu ramai.
• Fungsional: mudah dibuka-tutup, tidak bocor, cocok untuk mobilitas.
• Kepatuhan label: informasi wajib dan peringatan ditampilkan rapi.

Jika budget terbatas, fokus pada satu elemen yang paling “premium”: misalnya label dengan finishing doff, emboss kecil, atau warna yang konsisten dengan identitas brand. Tidak perlu semua elemen mahal sekaligus.

Branding dan Positioning: Mengapa Produk Anda Harus Dipilih?

Brand bukan hanya logo. Brand adalah janji pengalaman. Untuk UMKM, positioning yang efektif biasanya sederhana: “produk ini dibuat untuk X, membantu Y, dengan cara Z.” Contoh:

• Untuk kulit sensitif tropis → formula minim parfum, fokus barrier, tekstur ringan.
• Untuk gaya hidup aktif → sunscreen nyaman dipakai ulang, tidak lengket, ukuran travel.
• Untuk ibu menyusui → komunikasi lembut, edukasi keamanan, klaim yang realistis.

Pastikan pesan yang Anda sampaikan konsisten di kemasan, website, marketplace, dan konten media sosial. Konsistensi adalah “penghemat biaya iklan” yang sering diremehkan.

Strategi Harga: Menang Tanpa Perang Diskon

Harga bukan angka, tetapi sinyal nilai. Untuk menentukan harga, gunakan tiga lapisan:

1) Biaya pokok: bahan + kemasan + produksi + biaya gudang + biaya kerusakan (return).
2) Biaya akuisisi: iklan, influencer, komisi marketplace, dan ongkir subsidi jika ada.
3) Margin sehat: ruang untuk promosi dan pengembangan produk selanjutnya.

Kesalahan yang sering terjadi adalah menetapkan harga hanya berdasarkan kompetitor, lalu margin habis ketika masuk marketplace karena komisi dan biaya promo. Lebih aman menghitung harga “net” terlebih dahulu, kemudian tentukan strategi promo yang masih masuk akal.

Channel Penjualan untuk produk kecantikan UMKM Indonesia

Untuk produk kecantikan UMKM Indonesia, channel yang umum dipakai antara lain:

1) Marketplace

Cocok untuk validasi cepat dan volume. Namun kompetisi ketat. Kemenangan biasanya datang dari: foto yang meyakinkan, judul produk yang jelas, rating tinggi, dan respon chat cepat. Pastikan juga stok dan varian tertata agar tidak sering “habis” ketika iklan sedang jalan.

2) Website brand sendiri

Bagus untuk membangun kepercayaan, mengumpulkan database pelanggan, dan mengurangi ketergantungan pada platform. Sediakan halaman edukasi singkat: cara pakai, siapa yang cocok, bahan utama, serta FAQ. Pengalaman checkout yang simpel sering lebih penting daripada desain yang terlalu kompleks.

3) Reseller dan dropship

Efektif untuk memperluas jangkauan. Siapkan materi pendukung: katalog, foto produk, dan panduan caption. Bagi reseller, kejelasan margin dan kebijakan retur jauh lebih penting daripada janji “produk pasti laris”.

4) Offline: konsinyasi, event, dan komunitas

Untuk kategori tertentu seperti bodycare atau parfum, pengalaman mencium aroma langsung bisa meningkatkan penjualan. Mulailah dari event lokal atau pop-up di komunitas target. Kuncinya adalah mengumpulkan data kontak agar pembelian berikutnya bisa dialihkan ke online.

Pemasaran Digital: Konten yang Mengedukasi Sekaligus Mengonversi

Konten terbaik bukan yang paling ramai, tetapi yang paling membantu keputusan beli. Format yang efektif untuk produk kecantikan:

• Before–after yang jujur (tanpa klaim medis).
• Cara pakai yang benar (misalnya urutan skincare dan frekuensi).
• Penjelasan masalah (misalnya penyebab kulit kusam di iklim lembap).
• Testimoni berbasis pengalaman (tekstur, aroma, kenyamanan).
• Behind the brand (proses, QC, cerita bahan lokal).

Dalam iklan, fokus pada satu pesan per iklan. Misalnya: “tekstur ringan untuk iklim lembap”, bukan 10 klaim sekaligus. Iklan yang terlalu banyak janji sering terlihat tidak meyakinkan.

Menyusun Portofolio Produk: Dari Hero Product ke Ekosistem

Brand yang kuat biasanya dimulai dari satu hero product yang benar-benar menonjol, lalu berkembang menjadi seri. Contoh strategi portofolio:

• Tahap 1: 1 hero product + 1 produk pendamping (misalnya cleanser + moisturizer).
• Tahap 2: tambah varian untuk segmen yang sama (misalnya untuk kulit berminyak vs kering).
• Tahap 3: bundling dan paket rutin (morning routine, night routine, travel kit).

Dengan cara ini, Anda tidak perlu mengeluarkan banyak varian sejak awal. Fokus pada produk yang paling sering dipakai, karena repeat order adalah napas bisnis kecantikan.

Kolaborasi yang Menguntungkan UMKM

Kolaborasi bisa mempercepat pertumbuhan tanpa biaya iklan besar. Bentuk kolaborasi yang realistis:

• Co-creation dengan micro influencer yang punya audiens spesifik (misalnya hijab beauty, acne prone, atau skincare pemula).
• Kolaborasi dengan salon atau klinik kecantikan untuk paket perawatan rumahan.
• Kolaborasi komunitas seperti komunitas olahraga, ibu muda, atau pekerja kreatif, dengan produk yang relevan kebutuhan mereka.

Intinya, kolaborasi harus memberi nilai dua arah: Anda mendapat kepercayaan audiens baru, partner mendapat produk yang benar-benar bermanfaat bagi komunitasnya.

Roadmap 90 Hari: Langkah Praktis dari Nol ke Siap Jual

Jika Anda ingin bergerak terstruktur, gunakan roadmap berikut:

Minggu 1–2: riset ulasan, social listening, wawancara mini, lalu tulis brief produk.
Minggu 3–4: pilih jalur produksi (in-house/maklon), buat sampel 1–2 iterasi.
Minggu 5–6: uji kenyamanan, uji stabilitas sederhana, revisi formula jika perlu.
Minggu 7–8: finalisasi kemasan dan label, siapkan foto produk dan materi edukasi.
Minggu 9–10: siapkan sistem mutu minimal, SOP komplain, dan skema retur.
Minggu 11–12: soft launch, kumpulkan testimoni, optimasi listing marketplace/website, lalu mulai iklan kecil berbasis data.

Roadmap ini membantu Anda menghindari jebakan yang umum: terlalu lama di tahap “rencana”, atau terlalu cepat produksi besar tanpa validasi.

Kesalahan Umum yang Sering Membuat UMKM Stagnan

Berikut beberapa kesalahan yang sering terjadi pada pengembangan produk kecantikan lokal:

• Mengutamakan tren dibanding kebutuhan sehingga produk cepat basi.
• Klaim berlebihan yang akhirnya menurunkan kepercayaan.
• Mengabaikan kemasan padahal kemasan mempengaruhi persepsi kualitas.
• Tidak menghitung biaya akuisisi sehingga margin habis saat scaling.
• Tidak punya sistem mutu sehingga kualitas batch tidak konsisten.

Jika Anda bisa menghindari lima hal ini saja, peluang bertahan dan tumbuh biasanya jauh lebih besar.

call to action LSPUMKM WI 2

Penutup: Produk Lokal Bisa Menang dengan Strategi yang Tepat

Pengembangan produk kecantikan buatan lokal untuk UMKM bukan soal “meniru brand besar”, melainkan membangun produk yang relevan untuk konsumen Indonesia, aman, konsisten, dan punya cerita yang kuat. Mulailah dari riset sederhana, tajamkan positioning, lakukan prototipe dan uji dasar, lalu bangun sistem mutu serta strategi pemasaran yang realistis. Dengan disiplin, Anda bisa membuat produk kecantikan UMKM Indonesia yang bukan hanya laku saat launching, tetapi juga bertahan lewat repeat order.

Baca Juga: Tips Memilih Supplier Impor UMKM Indonesia Terpercaya

Terakhir, ingat bahwa bisnis kecantikan adalah bisnis kepercayaan. Semakin rapi proses Anda—dari bahan, produksi, kemasan, hingga komunikasi—semakin mudah konsumen mempercayai merek Anda. Saat kepercayaan terbentuk, promosi menjadi lebih ringan, dan Anda dapat mengembangkan lini produk kecantikan UMKM Indonesia berikutnya dengan data, bukan tebakan.

Leave a Comment

Rating

Uji Kompetensi metodologi, penguasaan materi pelatihan dan praktek penyampaian modul (delivery). Selanjutnya untuk memperoleh akreditasi (Sertifikat Akreditasi Fasilitator), fasilitator mendelivery modul yang dikuasai minimal 2 kali dalam pelatihan yang diselenggarakan oleh Mitra Penyelenggara Pelatihan, dengan nilai minimal 70% atau rating 3,5 dengan range antara 1 – 5. Setiap penugasan pelatih oleh Mitra Penyelenggara Pelatihan telah disertai persetujuan dari LSP UMKM & WI.

Bimbingan

Dalam bimbingan ini dijelaskan alur Uji Kompetensi yang dilaksanakan oleh LSP UMKM & WI . Kemudian, dilanjutkan dengan pendaftaran  untuk mendapatkan akun yang akan digunakan dalam sistem uji kompetensi LSP UMKM & WI . Pada sesi berikutnya, para peserta akan mendapat bimbingan untuk menggunakan sistem uji kompetensi tersebut hingga proses penilaian.

Sertifikasi

Sertifikasi Kompetensi Kerja adalah Proses pemberian sertifikat kompetensi yang dilakukan secara sistematis dan objektif melalui uji kompetensi yang mengacu kepada standar kompetensi. Terkait dengan Standard Kompetensi Kerja telah ditetapkan Standard Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Pengawas Syariah berdasarkan Keputusan Menteri Ketenagakerjaan RI Nomor 25 Tahun 2017. Sedangkan SKKNI itu sendiri adalah Rumusan kemampuan kerja yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan/atau keahlian serta sikap kerja yang relevan dengan pelaksanaan tugas dan syarat jabatan yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

SERTIFIKASI PENILAIAN DIAKUI INTERNASIONAL

Dengan lisensi resmi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi atau (BNSP) yang
dibentuk  Pemerintah  untuk melaksanakan ketentuan Pasal 18 ayat (5) Undang-Undang
Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, Lembaga Sertifikasi Profesi atau (LSP)
menjamin mutu kompetensi dan pelatihan Tenaga Kerja pada seluruh sektor bidang profesi
di seluruh Indonesia.

Sertifikat yang akan Anda dapatkan juga akan diakui oleh dunia Internasional, sehingga
kualitasnya tidak perlu diragukan lagi. Karena dengan memiliki sertifikasi profesi dari LSP
yang telah mendapatkan lisensi resmi dari BNSP, Anda mempunyai sebuah bukti kuat
bahwa Anda memang berkompeten dalam profesi yang Anda geluti. Itu juga memastikan
bahwa Anda mempunyai kemampuan yang mumpuni sebagai seorang profesional.

Sertifikasi kompetensi ini bisa Anda dapatkan melalui pelatihan dari LSP yang mempunyai
lisensi resmi dari BNSP. Dan LSP UMKM & WI, merupakan salah satu LSP yang bisa
membantu Anda untuk mewujudkan keinginan Anda dalam mendapatkan sertifikasi profesi
tersebut.

SERTIFIKASI KOMPETISI KASIR RETAIL

Sumber daya manusia (SDM) memainkan peranan yang sangat vital dalam menentukan
keberhasilan operasional toko. Sumber Daya Manusia (SDM) atau pengelola toko haruslah
mumpuni dan cekatan. Implementasi sistem komputerisasi yang semakin canggih dan
keharusan untuk menjalankan rangkap atau fungsi pekerjaan (multi-tasking) maka karyawan
toko juga harus memiliki kemampuan berhitung (matematika) yang baik, dan kemampuan
untuk bias berbahasa asing tentunya (minimal Bahasa Inggris).

Untuk itu pentingnya melakukan pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM) sebelum terjun
langsung ke dalam dunia kerja. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas Sumber
Daya Manusia (SDM) itu sendiri. Apabila Sumber Daya Manusia (SDM) telah tersetifikasi,
selain dapat menentukan keberhasilan toko, para Sumber Daya Manusia (SDM) tersebut
diharapkan mampu untuk bersaing dengan para tenaga kerja asing.

Perlu diingat bahwa bisnis minimarket ataupun retail dan toko adalah bisnis penjualan.
Jadi,segenap karyawan harus memiliki kualitas internal yang sejalan dan mendukung
peranannya sebagai penjual. Kualitas ini meliputi kepribadian (threat), sikap, (attitude),
motivasi dan nilai-nilai (values). Untuk itu pentingnya melakukan pelatihan Sumber Daya
Manusia (SDM).

JADIKAN SERTIFIKASI PENGELOLAAN UKM

Pada era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) ini, kompetensi menjadi syarat yang harus
dipenuhi untuk meningkatkan daya saing bangsa. Sejalan dengan itu, Kementerian Koperasi
dan UKM RI, terus berupaya meningkatkan kompetensi UMKM, salah satunya melalui
kegiatan sertifikasi kompetensi UKM. Kegiatan ini berupa memfasilitasi pelatihan serta
sertifikasi kompetensi bagi para pelaku UMKM.

Tujuannya untuk meningkatkan daya saing, mengingat pemberlakuan MEA akan sangat
berpengaruh kepada masuknya tenaga  kerja  asing yang mengakibatkan persaingan
menjadi semakin ketat. Standarisasi dan sertifikasi ini menjadi sangat penting diketahui oleh
para pelaku UKM. Karena selain meningkatkan daya saing, standarisasi adalah upaya untuk
menjaga kualitas produk.

Sertifikasi ini juga berguna sebagai bentuk penyesuaian dan upaya UKM untuk
menunjukkan kepada dunia jika telah memiliki standar tertentu, hingga pengembangan
usaha dapat dikembangkan menjadi lebih luas. Apabila produk telah tersertifikasi maka
konsumen akan semakin yakin, karena produk tersebut sudah pasti terjamin. Itulah alasan
mengapa standarisasi dan sertifikasi saat ini menjadi sangat penting diketahui oleh para
pelaku UKM.