Cara Mendapatkan Modal Usaha Kecil UMKM yang Tepat

Memulai usaha tidak selalu terhambat oleh ide, tetapi sering tertahan pada persoalan biaya awal. Banyak pelaku usaha pemula memiliki produk yang layak jual, memahami kebutuhan pasar, dan punya semangat yang kuat, namun berhenti di tengah jalan karena bingung mencari sumber pembiayaan. Di titik inilah modal usaha kecil UMKM menjadi sangat penting. Modal bukan sekadar uang untuk membuka usaha, melainkan alat untuk membeli bahan baku, menyiapkan operasional, menguji pasar, dan menjaga arus kas tetap sehat pada fase awal bisnis.

Masalahnya, masih banyak pelaku UMKM yang memandang modal sebagai sesuatu yang harus besar sejak awal. Padahal, pendekatan yang lebih tepat justru dimulai dari menghitung kebutuhan nyata, memilih sumber dana yang paling sesuai, lalu menggunakan pembiayaan secara disiplin. Dengan cara ini, usaha dapat tumbuh lebih stabil tanpa terbebani cicilan yang terlalu berat. Artinya, mencari modal tidak boleh dilakukan secara tergesa-gesa. Setiap pilihan harus disesuaikan dengan karakter bisnis, kemampuan bayar, dan tujuan jangka menengah.

Dalam praktiknya, ada banyak jalur yang bisa ditempuh. Anda bisa memulai dari tabungan pribadi, mencari dukungan keluarga, menggandeng mitra, memanfaatkan program pembiayaan pemerintah, mengajukan pinjaman ke lembaga keuangan, hingga mengembangkan model pre-order agar pelanggan ikut membantu perputaran kas. Setiap jalur punya kelebihan dan risikonya masing-masing. Karena itu, pelaku usaha perlu memahami mana yang cocok untuk bisnis rumahan, dagangan harian, usaha jasa, sampai usaha produksi skala kecil.

Kebutuhan modal usaha kecil untuk UMKM

Mengapa Modal Menjadi Fondasi Penting bagi UMKM?

Sebelum berbicara tentang sumber dana, langkah pertama yang wajib dilakukan adalah menghitung kebutuhan modal secara rinci. Pisahkan modal awal menjadi tiga bagian, yaitu biaya investasi, biaya operasional, dan dana cadangan. Biaya investasi meliputi peralatan, etalase, mesin kecil, kemasan awal, atau perlengkapan kerja. Biaya operasional mencakup bahan baku, transportasi, listrik, promosi, dan gaji jika sudah memiliki bantuan tenaga kerja. Sementara dana cadangan dipakai untuk menghadapi penjualan yang belum stabil pada bulan-bulan pertama. Banyak usaha gagal bukan karena produknya buruk, tetapi karena tidak menyiapkan cadangan kas untuk bertahan.

Setelah itu, bedakan mana kebutuhan penting dan mana pengeluaran yang bisa ditunda. Misalnya, bisnis makanan rumahan tidak harus langsung menyewa tempat strategis bila penjualan online dan sistem titip jual masih bisa berjalan. Usaha jasa desain tidak harus membeli perangkat paling mahal jika spesifikasi menengah masih memadai. Prinsip ini sederhana, tetapi sering diabaikan. Semakin tepat Anda menekan biaya yang belum mendesak, semakin ringan kebutuhan modal usaha kecil UMKM pada tahap awal.

Cara Menghitung Kebutuhan Modal Secara Realistis

Kesalahan paling umum saat memulai usaha adalah menghitung modal berdasarkan keinginan, bukan kebutuhan nyata. Agar lebih realistis, buat daftar lengkap kebutuhan usaha dari yang paling wajib hingga yang bisa ditunda. Tulis biaya alat, bahan baku, kemasan, ongkos kirim, biaya promosi awal, dan cadangan operasional minimal satu sampai tiga bulan. Dari sini, Anda akan melihat berapa dana minimum yang benar-benar dibutuhkan untuk menjalankan usaha, bukan sekadar angka yang terdengar aman.

Selanjutnya, pahami perbedaan antara modal kerja dan modal investasi. Modal kerja digunakan untuk aktivitas harian seperti membeli bahan baku, membayar ongkir, memberi upah, dan menjaga stok tetap tersedia. Sementara itu, modal investasi dipakai untuk aset yang umur pakainya lebih panjang, seperti freezer, etalase, laptop, mesin press, atau kendaraan operasional. Jika seluruh dana habis untuk membeli alat, usaha bisa macet karena tidak punya uang untuk beroperasi. Sebaliknya, bila semua dana hanya dipakai untuk kebutuhan harian tanpa peningkatan kapasitas, usaha akan sulit berkembang.

Anda juga perlu menentukan target omzet minimal. Pertanyaan sederhananya adalah: berapa penjualan yang harus dicapai agar usaha bisa menutup biaya dan tetap berjalan? Jawaban dari pertanyaan ini akan membantu Anda mengetahui apakah skala usaha yang direncanakan sudah masuk akal. Selain itu, Anda jadi bisa memutuskan apakah perlu meminjam, mencari mitra, atau cukup menyesuaikan kapasitas produksi terlebih dahulu.

Sumber Modal dari Dana Pribadi

Sumber modal yang paling aman sebenarnya adalah dana pribadi. Tabungan memberi keleluasaan karena tidak ada kewajiban cicilan dan Anda bisa mengatur ritme usaha dengan lebih tenang. Pilihan ini cocok untuk usaha mikro yang bisa dimulai dari skala rumahan, seperti katering kecil, kerajinan, jasa pengetikan, laundry kiloan, atau reseller produk. Namun, memakai dana pribadi tetap perlu batasan yang jelas. Jangan mencampur uang kebutuhan rumah tangga dengan uang usaha.

Sejak hari pertama, buat pemisahan rekening atau setidaknya pencatatan yang tegas agar arus kas mudah dipantau. Banyak UMKM merasa usahanya untung, padahal uang usaha sering terpakai untuk kebutuhan lain. Akibatnya, modal terus berkurang tanpa disadari. Dengan disiplin yang baik, dana pribadi bisa menjadi fondasi yang aman untuk menguji pasar sebelum bisnis diperbesar.

Meminjam dari Keluarga atau Kerabat

Bila tabungan belum cukup, dukungan keluarga atau kerabat sering menjadi langkah kedua. Model ini lazim dipilih karena prosesnya cepat dan lebih fleksibel dibanding pinjaman formal. Akan tetapi, justru karena dekat secara emosional, kesepakatannya harus lebih jelas. Tentukan sejak awal apakah dana tersebut berupa pinjaman, investasi, atau bantuan tanpa imbal balik.

Tuliskan nominal, jangka waktu, skema pengembalian, dan peran masing-masing pihak. Kesepakatan tertulis akan menjaga hubungan tetap sehat dan mencegah salah paham ketika usaha mulai berkembang. Jangan menganggap hubungan keluarga membuat semua hal bisa dibicarakan nanti. Semakin jelas aturan sejak awal, semakin kecil potensi konflik di kemudian hari.

Mencari Rekan atau Mitra Usaha

Alternatif berikutnya adalah mencari rekan usaha. Kemitraan dapat menjadi solusi bila Anda memiliki keterampilan operasional, tetapi kekurangan modal, sedangkan pihak lain memiliki dana namun tidak punya waktu mengelola usaha. Kerja sama seperti ini akan lebih kuat jika dibangun atas pembagian peran yang seimbang.

Siapa yang mengelola produksi, siapa yang menangani pemasaran, bagaimana laba dibagi, dan bagaimana keputusan besar diambil harus dibicarakan sejak awal. Jangan hanya mengandalkan rasa percaya tanpa aturan dasar, karena konflik dalam kemitraan sering muncul bukan saat usaha rugi, melainkan saat usaha mulai menghasilkan. Untuk itu, perjanjian kerja sama sederhana tetap penting meskipun usaha masih kecil.

Memanfaatkan Pinjaman Resmi yang Sesuai

Untuk pelaku usaha yang memerlukan pembiayaan lebih terstruktur, pinjaman perbankan bisa menjadi opsi. Salah satu jalur yang paling dikenal adalah Kredit Usaha Rakyat (KUR). Skema ini sering dipertimbangkan oleh pelaku usaha produktif yang membutuhkan tambahan dana untuk modal kerja atau investasi usaha. Meski demikian, pinjaman resmi tidak boleh dipilih hanya karena bunganya terlihat ringan. Anda tetap perlu memastikan kapasitas bayar, stabilitas omzet, dan kebutuhan usaha benar-benar sesuai.

Saat mengajukan pembiayaan ke bank atau lembaga resmi, biasanya ada beberapa hal yang dinilai: legalitas usaha, catatan transaksi, profil usaha, dan kemampuan mengembalikan pinjaman. Karena itu, pelaku UMKM sebaiknya mulai membangun kebiasaan administrasi sejak dini. Simpan bukti penjualan, buat pencatatan pemasukan-pengeluaran, siapkan deskripsi usaha, dan pisahkan keuangan pribadi dari bisnis. Dokumen sederhana seperti ini bisa meningkatkan kepercayaan pihak pemberi dana.

Banyak pengajuan ditolak bukan semata karena bisnisnya buruk, tetapi karena data usahanya tidak rapi. Jadi, jika Anda ingin mencari modal usaha kecil UMKM melalui jalur resmi, rapikan administrasi mulai sekarang. Bahkan catatan sederhana yang konsisten jauh lebih berharga daripada usaha yang terlihat sibuk tetapi tanpa data yang jelas.

Opsi Koperasi Simpan Pinjam

Selain bank, koperasi simpan pinjam juga dapat dipertimbangkan untuk pelaku usaha tertentu. Dalam konteks pembiayaan mikro, lembaga seperti koperasi simpan pinjam sering terasa lebih dekat, lebih mudah dipahami, dan lebih sesuai untuk kebutuhan dana yang tidak terlalu besar. Bagi sebagian pengusaha mikro, jalur ini menjadi pilihan karena prosesnya lebih sederhana dibanding lembaga keuangan yang lebih formal.

Namun, Anda tetap harus teliti memilih lembaga yang legal, transparan, dan memiliki aturan pinjaman yang jelas. Jangan tergoda proses cepat bila biaya administrasi, denda, atau bunganya justru membebani usaha. Bacalah seluruh syarat dengan teliti sebelum menandatangani apa pun. Modal yang seharusnya membantu, jangan sampai berubah menjadi tekanan yang mengganggu arus kas usaha.

Pre-Order sebagai Strategi Modal Minim Risiko

Cara lain yang semakin relevan adalah menggunakan sistem pre-order. Model ini sangat efektif untuk usaha makanan, fesyen, hampers, produk kerajinan, hingga produk custom. Dengan pre-order, Anda menerima pembayaran lebih dahulu sebelum seluruh produksi dilakukan. Artinya, sebagian kebutuhan bahan baku bisa ditopang oleh uang muka pelanggan.

Strategi ini membantu menekan risiko stok menumpuk sekaligus menjaga perputaran kas. Agar berhasil, Anda harus jujur soal waktu produksi, kualitas produk, dan jadwal pengiriman. Kepercayaan pelanggan adalah aset utama dalam model pembiayaan seperti ini. Sekali pelanggan merasa dikecewakan, efeknya bukan hanya pada satu pesanan, tetapi juga reputasi usaha secara keseluruhan.

Menumbuhkan Usaha dari Laba yang Diputar

Tidak sedikit juga UMKM yang mendapatkan modal dari hasil memutar keuntungan kecil secara disiplin. Cara ini memang lebih lambat, tetapi sangat sehat untuk jangka panjang. Misalnya, Anda memulai usaha minuman dengan peralatan sederhana dan target laba harian kecil. Sebagian laba dipakai untuk kebutuhan pribadi, tetapi sebagian lagi wajib ditahan untuk menambah kapasitas usaha.

Dari sinilah lahir pertumbuhan organik: menambah variasi produk, memperbaiki kemasan, membeli alat yang lebih efisien, atau memperluas titik penjualan. Pertumbuhan seperti ini sering lebih tahan guncangan karena bisnis berkembang berdasarkan kemampuan riil, bukan semata dorongan utang atau dana besar yang belum tentu dikelola dengan baik.

Kesalahan Umum Saat Mencari Modal

Bagi pelaku usaha pemula, ada satu kesalahan yang sangat sering terjadi, yaitu mengajukan pinjaman untuk menutup biaya yang sebenarnya belum penting. Contohnya, meminjam dana besar hanya untuk desain toko yang mewah, membeli perlengkapan yang jarang dipakai, atau memproduksi stok terlalu banyak sebelum pasar teruji. Padahal, tujuan utama modal awal adalah menciptakan penjualan, bukan membangun citra yang berlebihan.

Pada fase awal, fokus Anda seharusnya pada produk, pelanggan, kualitas layanan, dan arus kas. Penampilan bisnis bisa ditingkatkan bertahap setelah pemasukan lebih stabil. Kesalahan lain adalah tidak menyiapkan dana cadangan. Banyak usaha terlihat ramai pada minggu pertama, tetapi goyah ketika penjualan menurun karena tidak ada dana pengaman untuk operasional.

Kesalahan berikutnya adalah tidak membandingkan beberapa sumber pembiayaan. Tawaran pinjaman instan mungkin terlihat menarik saat Anda sedang butuh dana, tetapi jika bunganya tinggi dan tenornya tidak sejalan dengan siklus penjualan, hasilnya bisa sangat berat. Karena itu, bandingkan total biaya, bukan hanya cicilan per bulan. Periksa juga denda keterlambatan, biaya administrasi, serta reputasi lembaga pemberi pinjaman.

Administrasi yang Membantu Modal Lebih Mudah Didapat

Bagi UMKM yang ingin terlihat lebih siap di mata pemberi modal, susun proposal usaha sederhana. Tidak perlu terlalu formal, tetapi isinya harus jelas: masalah yang ingin diselesaikan produk Anda, target pasar, model penjualan, kebutuhan modal, proyeksi penggunaan dana, dan estimasi laba. Proposal semacam ini bukan hanya berguna untuk calon investor atau lembaga keuangan, melainkan juga membantu Anda sendiri berpikir lebih terstruktur.

Ketika bisa menjelaskan usaha secara singkat dan meyakinkan, peluang mendapatkan dukungan dana biasanya ikut meningkat. Di samping itu, rapikan dokumen pendukung seperti catatan penjualan, daftar pelanggan, bukti pembelian bahan baku, hingga foto produk. Hal-hal sederhana seperti ini bisa menambah kredibilitas usaha, terutama ketika Anda ingin mengajukan pembiayaan skala kecil hingga menengah.

Menyesuaikan Sumber Modal dengan Tahap Bisnis

Anda juga perlu jujur menilai tahap bisnis yang sedang dijalani. Untuk usaha yang masih tahap uji pasar, sumber dana paling aman biasanya tabungan pribadi, pre-order, atau dukungan keluarga dalam nominal terbatas. Untuk usaha yang sudah memiliki pelanggan tetap, pencatatan rapi, dan arus kas lebih stabil, pinjaman resmi mulai lebih masuk akal.

Sedangkan bagi usaha yang ingin ekspansi lebih besar, skema kemitraan atau investor kecil bisa dipertimbangkan. Kuncinya adalah mencocokkan sumber modal dengan tingkat kematangan usaha, bukan sekadar mengejar nominal terbesar. Semakin sesuai sumber pembiayaan dengan kondisi bisnis, semakin sehat peluang usaha untuk tumbuh.

call to action LSPUMKM WI 2

Gunakan Modal untuk Hal yang Mendorong Penjualan

Di sisi lain, pengelolaan keuangan setelah dana didapat justru sama pentingnya dengan proses mencarinya. Banyak pelaku usaha semangat saat berburu pembiayaan, tetapi tidak disiplin ketika uang sudah cair. Karena itu, segera buat pos pengeluaran, tentukan batas pembelian, dan catat transaksi harian. Gunakan prinsip sederhana: setiap rupiah harus punya tujuan.

Bila ada sisa dana, jangan buru-buru dipakai untuk kebutuhan di luar rencana. Sisihkan untuk cadangan, promosi yang terukur, atau peningkatan kualitas produk yang benar-benar berdampak pada penjualan. Dalam konteks modal usaha kecil UMKM, kebiasaan inilah yang membedakan usaha yang bertahan dengan usaha yang cepat kehabisan napas.

Promosi juga perlu diposisikan dengan cerdas. Banyak UMKM mengira modal besar harus langsung dialokasikan untuk iklan dalam jumlah besar. Padahal, promosi paling efektif pada tahap awal sering kali justru berasal dari kanal yang murah tetapi konsisten, seperti konten media sosial, testimoni pelanggan, katalog WhatsApp, kerja sama komunitas lokal, dan program referal. Dengan strategi seperti ini, kebutuhan dana pemasaran bisa ditekan tanpa mengorbankan jangkauan.

Modal Besar Bukan Jaminan Sukses

Pelaku usaha juga perlu membangun mentalitas bahwa modal besar bukan jaminan sukses. Banyak bisnis kecil tumbuh kuat justru karena dipaksa efisien sejak awal. Mereka belajar fokus pada produk inti, menjaga pelayanan, dan memprioritaskan pengeluaran yang menghasilkan penjualan. Sebaliknya, usaha yang terlalu cepat dibanjiri dana kadang kehilangan disiplin. Mereka mudah tergoda berekspansi, menambah beban tetap, atau mengeluarkan biaya yang tidak berkaitan langsung dengan kebutuhan pasar.

Secara umum, UMKM memiliki karakter yang sangat beragam, mulai dari usaha rumahan hingga usaha kecil yang sudah memiliki tim dan distribusi lebih luas. Karena itu, kebutuhan pembiayaan setiap pelaku usaha jelas berbeda. Semakin jelas posisi usaha Anda, semakin mudah menentukan pilihan sumber modal yang relevan dan aman.

Satu hal yang tidak kalah penting adalah literasi risiko. Saat menerima modal dari luar, Anda bukan hanya memperoleh uang, tetapi juga tanggung jawab. Pinjaman berarti ada kewajiban pengembalian. Investor berarti ada ekspektasi pertumbuhan dan laporan. Mitra berarti ada pembagian keputusan. Keluarga berarti ada hubungan yang harus dijaga. Jangan mengejar dana besar bila model bisnis Anda sendiri belum cukup jelas.

Baca Juga: Peluang Ide Usaha Kuliner UMKM yang Paling Menjanjikan

Akhirnya, cara mendapatkan modal usaha kecil UMKM yang tepat selalu berawal dari perencanaan yang jernih. Hitung kebutuhan riil, pilih sumber dana sesuai tahap usaha, jaga administrasi, dan gunakan uang hanya untuk hal yang benar-benar mendorong penjualan atau efisiensi. Dengan pendekatan seperti itu, modal tidak berubah menjadi beban, melainkan menjadi alat pertumbuhan. Jadi, ketika Anda ingin mencari modal usaha kecil UMKM, jangan hanya bertanya “dapat uang dari mana”, tetapi juga “bagaimana usaha ini bisa bertumbuh sehat setelah dana diperoleh”. Dari situlah keputusan pembiayaan yang lebih bijak akan lahir.

Leave a Comment

Rating

Uji Kompetensi metodologi, penguasaan materi pelatihan dan praktek penyampaian modul (delivery). Selanjutnya untuk memperoleh akreditasi (Sertifikat Akreditasi Fasilitator), fasilitator mendelivery modul yang dikuasai minimal 2 kali dalam pelatihan yang diselenggarakan oleh Mitra Penyelenggara Pelatihan, dengan nilai minimal 70% atau rating 3,5 dengan range antara 1 – 5. Setiap penugasan pelatih oleh Mitra Penyelenggara Pelatihan telah disertai persetujuan dari LSP UMKM & WI.

Bimbingan

Dalam bimbingan ini dijelaskan alur Uji Kompetensi yang dilaksanakan oleh LSP UMKM & WI . Kemudian, dilanjutkan dengan pendaftaran  untuk mendapatkan akun yang akan digunakan dalam sistem uji kompetensi LSP UMKM & WI . Pada sesi berikutnya, para peserta akan mendapat bimbingan untuk menggunakan sistem uji kompetensi tersebut hingga proses penilaian.

Sertifikasi

Sertifikasi Kompetensi Kerja adalah Proses pemberian sertifikat kompetensi yang dilakukan secara sistematis dan objektif melalui uji kompetensi yang mengacu kepada standar kompetensi. Terkait dengan Standard Kompetensi Kerja telah ditetapkan Standard Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Pengawas Syariah berdasarkan Keputusan Menteri Ketenagakerjaan RI Nomor 25 Tahun 2017. Sedangkan SKKNI itu sendiri adalah Rumusan kemampuan kerja yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan/atau keahlian serta sikap kerja yang relevan dengan pelaksanaan tugas dan syarat jabatan yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

SERTIFIKASI PENILAIAN DIAKUI INTERNASIONAL

Dengan lisensi resmi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi atau (BNSP) yang
dibentuk  Pemerintah  untuk melaksanakan ketentuan Pasal 18 ayat (5) Undang-Undang
Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, Lembaga Sertifikasi Profesi atau (LSP)
menjamin mutu kompetensi dan pelatihan Tenaga Kerja pada seluruh sektor bidang profesi
di seluruh Indonesia.

Sertifikat yang akan Anda dapatkan juga akan diakui oleh dunia Internasional, sehingga
kualitasnya tidak perlu diragukan lagi. Karena dengan memiliki sertifikasi profesi dari LSP
yang telah mendapatkan lisensi resmi dari BNSP, Anda mempunyai sebuah bukti kuat
bahwa Anda memang berkompeten dalam profesi yang Anda geluti. Itu juga memastikan
bahwa Anda mempunyai kemampuan yang mumpuni sebagai seorang profesional.

Sertifikasi kompetensi ini bisa Anda dapatkan melalui pelatihan dari LSP yang mempunyai
lisensi resmi dari BNSP. Dan LSP UMKM & WI, merupakan salah satu LSP yang bisa
membantu Anda untuk mewujudkan keinginan Anda dalam mendapatkan sertifikasi profesi
tersebut.

SERTIFIKASI KOMPETISI KASIR RETAIL

Sumber daya manusia (SDM) memainkan peranan yang sangat vital dalam menentukan
keberhasilan operasional toko. Sumber Daya Manusia (SDM) atau pengelola toko haruslah
mumpuni dan cekatan. Implementasi sistem komputerisasi yang semakin canggih dan
keharusan untuk menjalankan rangkap atau fungsi pekerjaan (multi-tasking) maka karyawan
toko juga harus memiliki kemampuan berhitung (matematika) yang baik, dan kemampuan
untuk bias berbahasa asing tentunya (minimal Bahasa Inggris).

Untuk itu pentingnya melakukan pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM) sebelum terjun
langsung ke dalam dunia kerja. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas Sumber
Daya Manusia (SDM) itu sendiri. Apabila Sumber Daya Manusia (SDM) telah tersetifikasi,
selain dapat menentukan keberhasilan toko, para Sumber Daya Manusia (SDM) tersebut
diharapkan mampu untuk bersaing dengan para tenaga kerja asing.

Perlu diingat bahwa bisnis minimarket ataupun retail dan toko adalah bisnis penjualan.
Jadi,segenap karyawan harus memiliki kualitas internal yang sejalan dan mendukung
peranannya sebagai penjual. Kualitas ini meliputi kepribadian (threat), sikap, (attitude),
motivasi dan nilai-nilai (values). Untuk itu pentingnya melakukan pelatihan Sumber Daya
Manusia (SDM).

JADIKAN SERTIFIKASI PENGELOLAAN UKM

Pada era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) ini, kompetensi menjadi syarat yang harus
dipenuhi untuk meningkatkan daya saing bangsa. Sejalan dengan itu, Kementerian Koperasi
dan UKM RI, terus berupaya meningkatkan kompetensi UMKM, salah satunya melalui
kegiatan sertifikasi kompetensi UKM. Kegiatan ini berupa memfasilitasi pelatihan serta
sertifikasi kompetensi bagi para pelaku UMKM.

Tujuannya untuk meningkatkan daya saing, mengingat pemberlakuan MEA akan sangat
berpengaruh kepada masuknya tenaga  kerja  asing yang mengakibatkan persaingan
menjadi semakin ketat. Standarisasi dan sertifikasi ini menjadi sangat penting diketahui oleh
para pelaku UKM. Karena selain meningkatkan daya saing, standarisasi adalah upaya untuk
menjaga kualitas produk.

Sertifikasi ini juga berguna sebagai bentuk penyesuaian dan upaya UKM untuk
menunjukkan kepada dunia jika telah memiliki standar tertentu, hingga pengembangan
usaha dapat dikembangkan menjadi lebih luas. Apabila produk telah tersertifikasi maka
konsumen akan semakin yakin, karena produk tersebut sudah pasti terjamin. Itulah alasan
mengapa standarisasi dan sertifikasi saat ini menjadi sangat penting diketahui oleh para
pelaku UKM.