Kemasan Produk UMKM Menarik: Panduan Mengemas Jualan

Di tengah persaingan yang makin padat, kemasan produk UMKM yang menarik bukan lagi sekadar pemanis tampilan. Kemasan adalah “salesperson” pertama yang bertemu calon pembeli—di etalase, di bazar, di foto marketplace, sampai momen unboxing di rumah. Saat kemasan terasa rapi, aman, dan konsisten, pembeli cenderung menilai produk lebih profesional, lebih higienis, dan lebih layak dibeli.

Panduan ini membahas langkah praktis untuk UMKM: memahami target pasar, menentukan fungsi kemasan, memilih bahan dan bentuk yang tepat, menyusun desain dan label yang menjual, menghitung biaya kemasan agar margin tetap sehat, hingga SOP packing untuk pengiriman. Kamu akan mendapatkan checklist yang bisa langsung diterapkan meski skala usaha masih kecil.

kemasan produk UMKM

Mengapa Kemasan Bisa Mengubah Keputusan Beli?

Banyak keputusan beli terjadi dalam hitungan detik. Dalam waktu singkat itu, kemasan bekerja sebagai bahasa visual: memberi sinyal apakah produk ini premium, higienis, ramah lingkungan, cocok untuk hadiah, atau justru terlihat “asal jadi”. Bahkan ketika kualitas produk bagus, kemasan yang kurang rapi bisa menurunkan persepsi nilai dan membuat orang ragu untuk mencoba.

  • Membangun kepercayaan: kemasan rapi dan label jelas membuat pembeli merasa aman, terutama pada makanan/minuman dan produk perawatan tubuh.
  • Meningkatkan persepsi harga: packaging yang baik membuat produk tampak bernilai sehingga harga lebih mudah diterima.
  • Mengurangi komplain: kemasan yang kuat menurunkan risiko bocor/pecah/rusak saat pengiriman.
  • Memperkuat brand: konsistensi warna, logo, dan gaya desain membuat produk mudah dikenali.

Langkah 1: Kenali Target Konsumen dan Momen Pembelian

Sebelum memilih bahan kemasan atau membuat desain, tentukan dulu siapa yang akan membeli dan kapan mereka membeli. Produk yang sering dibeli untuk kebutuhan harian membutuhkan kemasan yang efisien dan mudah digunakan. Produk yang sering dibeli sebagai hadiah membutuhkan tampilan yang lebih “giftable” dan terasa spesial.

Pertanyaan Kunci untuk Menentukan Arah Kemasan

  • Produk ini dibeli untuk konsumsi sendiri atau untuk hadiah?
  • Target usia dan gaya hidupnya seperti apa (pelajar, pekerja, ibu rumah tangga, komunitas hobi)?
  • Harga jual yang kamu incar berada di kelas ekonomis, menengah, atau premium?
  • Saluran penjualan utama: offline, bazar, reseller, atau marketplace?
  • Produk rentan rusak/lembek/bocor/pecah, atau relatif aman?

Contoh: snack rumahan yang dijual rutin butuh kemasan hemat, rapi, dan bisa ditutup kembali. Sementara hampers musiman butuh box yang terlihat mewah dan cocok difoto.

Langkah 2: Tentukan Fungsi Utama Kemasan

Desain boleh menarik, tetapi kemasan wajib berfungsi. Jika fungsi buruk, komplain naik, rating turun, biaya retur meningkat. Pastikan empat fungsi ini terpenuhi:

  • Melindungi produk: dari udara, cahaya, benturan, kelembapan, dan kontaminasi.
  • Memudahkan penggunaan: mudah dibuka, disimpan, dan jika perlu ditutup kembali.
  • Mempermudah pengiriman: tidak gampang bocor/pecah, bentuk stabil saat ditumpuk, aman untuk ekspedisi.
  • Memberi informasi: komposisi, tanggal, berat bersih, cara simpan, dan kontak produsen.

Langkah 3: Pilih Jenis Kemasan Sesuai Produk

Jenis kemasan yang tepat sering lebih penting daripada kemasan yang mahal. Berikut opsi populer untuk UMKM dan kapan sebaiknya digunakan.

1) Standing pouch (plastik/metalize/kraft)

Cocok untuk snack kering, kopi, bumbu, granola, atau produk yang butuh tampil modern. Pilih yang memiliki zipper agar bisa ditutup kembali. Untuk produk sensitif udara/lembap, pastikan kualitas seal rapat.

2) Botol (PET/kaca) dan jar

Cocok untuk minuman, sambal, saus, madu, atau skincare. Botol memberi kesan higienis. Untuk pengiriman jauh, pertimbangkan segel tambahan (inner seal atau shrink) agar aman dari bocor.

3) Kotak/dus (folding box, rigid box, corrugated)

Cocok untuk produk premium, hampers, makanan kering, hingga kerajinan. Untuk pengiriman, corrugated (kardus bergelombang) biasanya lebih aman karena menahan benturan.

4) Vacuum pack

Cocok untuk produk yang butuh umur simpan lebih panjang (sesuaikan proses produksi dan penyimpanan). Vacuum membantu mengurangi udara di dalam kemasan sehingga produk lebih stabil selama distribusi.

5) Paper bag, sleeve, atau wrap

Cocok untuk mempercantik pengalaman belanja offline dan hadiah. Sleeve (selongsong kertas) adalah solusi hemat untuk branding pada kemasan polos—misalnya botol minuman atau wadah makanan.

Langkah 4: Memilih Material Kemasan: Aman, Cantik, dan Ramah Biaya

Di UMKM, biaya kemasan bisa “makan margin” jika tidak dikendalikan. Kuncinya: mulai dari kebutuhan perlindungan, lalu pilih material minimal yang tetap aman. Jangan memilih bahan hanya karena terlihat premium, tetapi tidak cocok dengan karakter produk.

Checklist Memilih Material

  • Produk sensitif cahaya? Pertimbangkan material berlapis/metalize atau botol gelap.
  • Produk mudah melempem? Pastikan barrier baik dan proses sealing rapi.
  • Produk berminyak? Hindari bahan yang mudah tembus minyak, gunakan inner liner bila perlu.
  • Produk dikirim jauh? Pilih material lebih tebal dan bentuk stabil.
  • Target pasar peduli lingkungan? Gunakan kemasan yang bisa dipakai ulang/didaur ulang, dan komunikasikan dengan jujur.

Jika kamu ingin menonjolkan nilai ramah lingkungan, lakukan secara transparan. Alih-alih menempel “eco” tanpa bukti, jelaskan langkah nyata: misalnya memilih bahan kertas kraft yang mudah didaur ulang atau mendorong reuse dengan desain wadah yang bisa dipakai ulang.

Kunci Kemasan Produk UMKM Menarik: Desain yang Menjual

Kesalahan umum UMKM adalah memasukkan terlalu banyak elemen: kebanyakan warna, kebanyakan font, kebanyakan slogan. Padahal desain yang kuat biasanya sederhana, jelas, dan fokus. Buat hierarki visual agar pembeli menangkap pesan utama hanya dengan sekali lihat.

Elemen Desain yang Wajib Ada

  • Logo/brand name yang terbaca jelas.
  • Nama produk dan varian yang menonjol.
  • Benefit utama yang relevan (misalnya “tanpa pengawet”, “roasted fresh”, “handmade”).
  • Informasi penting seperti berat bersih, komposisi, tanggal.
  • Kontak/akun untuk repeat order.

Jika belum punya tim desain, gunakan aturan sederhana: batasi 2–3 warna utama, 1–2 jenis font, dan beri ruang kosong (white space). Ruang kosong membuat desain terlihat lebih rapi dan profesional.

Untuk memahami konteks strategi di balik tampilan, kamu bisa membaca ringkasan tentang pemasaran. Kemasan adalah bagian dari komunikasi pemasaran—bukan sekadar wadah.

Psikologi Warna dan Tipografi untuk UMKM

Warna dan font memengaruhi emosi. Pilih warna sesuai karakter brand dan kategori produk. Misalnya, warna hangat sering terasa akrab dan “menggugah selera”, sementara warna netral sering terasa premium. Untuk font, prioritaskan keterbacaan. Kemasan yang cantik tetapi sulit dibaca akan kalah di rak dan di foto marketplace.

  • Gunakan kontras yang cukup: teks gelap di latar terang atau sebaliknya.
  • Perbesar elemen penting: brand dan nama produk harus menang.
  • Hindari font dekoratif untuk teks panjang: pakai font sederhana untuk informasi.

Langkah 6: Susun Label yang Informatif dan Meyakinkan

Label adalah bagian penting dari kemasan produk UMKM. Label yang rapi membuat pembeli merasa aman, terutama pada produk konsumsi. Selain itu, label yang jelas membantu pembeli menyimpan produk dengan benar dan meningkatkan kemungkinan repeat order.

Informasi Label yang Umum Dicantumkan

  • Nama produk dan varian
  • Berat bersih/isi bersih
  • Komposisi/bahan
  • Tanggal produksi dan kedaluwarsa (atau best before)
  • Cara simpan dan saran penyajian (jika perlu)
  • Nama produsen dan alamat/kota
  • Kontak (WhatsApp/IG/website)

Bagian Penting: Klaim, Izin, dan Etika Informasi Produk

Jika produkmu berada pada kategori yang membutuhkan ketentuan khusus (misalnya pangan olahan atau kosmetik), pastikan kamu mempelajari aturan label yang relevan. Hindari klaim kesehatan yang berlebihan atau menyesatkan. Lebih aman menonjolkan klaim faktual seperti bahan baku, proses produksi, atau fitur yang benar-benar bisa dibuktikan.

Kalau kamu menjual makanan/minuman, biasakan menulis info penyimpanan yang jelas. Ini bukan hanya soal kepatuhan, tetapi juga mengurangi komplain karena produk rusak akibat cara simpan yang salah.

Langkah 7: Aksesori Kemasan yang Efektif (Biaya Kecil, Dampak Besar)

Kamu tidak harus mengganti kemasan utama untuk terlihat lebih profesional. Sering kali, aksesori sederhana sudah cukup membuat pengalaman pembeli naik kelas.

  • Sticker segel: rapi, menambah rasa aman (tamper evident).
  • Hang tag: cocok untuk fashion/kerajinan, bisa berisi cerita singkat.
  • Kartu ucapan kecil: membuat pembeli merasa dihargai.
  • Thank you card + cara order ulang: mengarahkan repeat order.
  • Pelindung kirim: bubble wrap, paper wrap, atau sekat kardus.

Di tahap ini, banyak UMKM mulai melihat efeknya: kemasan terasa lebih niat, pembeli lebih percaya, dan produk lebih layak direkomendasikan.

Langkah 8: Kemasan Harus “Camera Friendly” untuk Marketplace

Di marketplace, foto adalah etalase. Uji sederhana: foto kemasan dari jarak 1 meter dengan kamera ponsel standar. Apakah brand dan nama produk terbaca? Jika tidak, perbesar elemen penting, kurangi teks, dan rapikan komposisi.

Tips Agar Kemasan Tampil Bagus di Foto

  • Kurangi efek glossy agar tidak memantulkan cahaya.
  • Pakai warna yang konsisten dan tidak “bertabrakan”.
  • Pastikan kemasan bersih, tidak penyok, dan label tidak miring.
  • Jika kemasan transparan, isi produk harus terlihat rapi dan seragam.

Langkah 9: Uji Ketahanan Kemasan Sebelum Produksi Banyak

Uji coba mencegah kerugian. Lakukan simulasi pengiriman dan penyimpanan agar kamu tahu titik lemah kemasan.

Simulasi Sederhana

  • Uji jatuh: jatuhkan paket (dengan packing standar kirim) dari ketinggian pinggang, cek bocor/pecah/penyok.
  • Uji panas ringan: simpan di tempat hangat, cek label mengelupas atau kemasan melengkung.
  • Uji kelembapan: cek apakah produk melempem atau label luntur.
  • Uji buka-tutup: zipper/tutup harus kuat untuk pemakaian berulang.

Kalau ada masalah, solusi sering sederhana: ganti ketebalan plastik, tambah segel, atau ubah ukuran box agar produk tidak bergeser.

Langkah 10: Hitung Biaya Kemasan agar Margin Tetap Sehat

UMKM sering “terjebak” karena kemasan bagus tetapi margin jadi tipis. Cara aman adalah menghitung biaya kemasan per unit dan membandingkannya dengan target margin.

Rumus sederhana biaya kemasan per unit

  • Biaya kemasan/unit = (kemasan utama + label + segel + inner wrap + box kirim + filler) per unit
  • Tambahkan biaya risiko: misalnya cadangan 1–3% untuk kerusakan/retur (tergantung kategori)

Strategi hemat yang tetap terlihat premium: gunakan kemasan utama yang standar tetapi rapi, lalu perkuat branding lewat label cetak yang bagus dan aksesori kecil (segel + kartu). Ini biasanya lebih efisien daripada memaksakan custom printing sejak awal.

call to action LSPUMKM WI 2

SOP Packing untuk Pengiriman Marketplace

Kalau kamu banyak jualan online, packing adalah bagian dari kualitas produk. Pembeli menilai brand dari kondisi paket saat sampai. Buat SOP sederhana agar hasilnya konsisten meski dikerjakan tim.

Contoh SOP singkat (bisa kamu tempel di area packing)

  1. Cek produk: kondisi fisik, segel, tanggal, varian sesuai pesanan.
  2. Lap kemasan luar (jika perlu) agar bersih untuk foto dan unboxing.
  3. Gunakan pelindung sesuai risiko: bubble wrap untuk botol, sekat untuk isi lebih dari 1.
  4. Tambahkan kartu ucapan + cara order ulang.
  5. Masukkan ke box kirim ukuran pas (hindari ruang kosong berlebihan).
  6. Isi ruang kosong dengan filler (kertas/air pillow) agar produk tidak bergerak.
  7. Tutup rapat, tempel label alamat, dan beri penanda “fragile” jika perlu.

Selaraskan Kemasan dengan Cerita Brand dan Identitas Lokal

Brand yang kuat membuat produk diingat. Kemasan adalah media terbaik untuk “bercerita” singkat: asal bahan, nilai usaha, atau ciri khas daerah. Cerita tidak harus panjang—cukup satu paragraf singkat yang konsisten. Yang penting, gaya visual kemasan mendukung pesan: jika kamu membawa citra lokal dan hangat, jangan gunakan desain yang terlalu “dingin” dan kaku.

Untuk memahami konsep dan definisi kemasan secara umum, kamu bisa melihat penjelasan tentang kemasan. Ini membantu kamu melihat kemasan bukan hanya pembungkus, tetapi bagian dari sistem distribusi dan komunikasi produk.

Contoh Konsep Kemasan Berdasarkan Kategori Produk

Produk Makanan Kering (keripik, cookies, kacang)

  • Pilih standing pouch/stoples yang rapat.
  • Label depan fokus: brand + nama produk + varian + berat.
  • Info komposisi dan tanggal di bagian belakang.
  • Untuk hampers, gunakan box dengan sekat agar rapi.

Produk Minuman (kopi literan, jamu, cold brew)

  • Gunakan botol dengan tutup kuat dan nyaman digenggam.
  • Tambahkan segel shrink/inner seal untuk keamanan.
  • Pastikan label tahan cipratan air dan tidak mudah luntur.
  • Gunakan box kirim ukuran pas agar botol tidak bergerak.

Produk Kerajinan (aksesori, souvenir, dekorasi)

  • Gunakan box/kardus tebal dengan isian pelindung.
  • Sertakan kartu perawatan produk.
  • Tambahkan hang tag untuk menaikkan kesan premium.

Checklist Praktis: Kemasan Siap Jual dan Siap Kirim

  • Nama brand terbaca dari jarak 1 meter
  • Nama produk dan varian jelas
  • Label informatif (minimal komposisi & tanggal)
  • Kemasan rapat dan tidak mudah bocor
  • Aman saat disusun/ditumpuk
  • Biaya kemasan terukur, margin tetap sehat
  • Fotogenik untuk katalog dan marketplace
  • Punya ciri khas (warna, ilustrasi, atau cerita brand)

Kesalahan Umum Saat Mengemas Produk UMKM

  • Terlalu ramai: banyak warna/font membuat kemasan terlihat kurang profesional.
  • Mengabaikan fungsi: cantik tapi bocor/pecah saat dikirim.
  • Label minim informasi: pembeli ragu dan kurang percaya.
  • Tidak konsisten: desain berubah-ubah, brand sulit diingat.
  • Biaya kemasan tidak dihitung: margin habis, terpaksa bakar harga.

Rencana Upgrade Bertahap Agar Budget Aman

Kalau baru mulai, tidak perlu langsung custom printing besar. Upgrade bertahap agar arus kas aman:

  1. Mulai dari kemasan polos berkualitas + sticker label rapi
  2. Tambahkan segel keamanan
  3. Upgrade label cetak yang lebih presisi dan tahan air
  4. Gunakan box untuk paket premium atau momen musiman
  5. Jika penjualan stabil, barulah custom printing dalam jumlah besar

FAQ Singkat Seputar Kemasan untuk UMKM

Apakah kemasan harus mahal agar terlihat premium?

Tidak. Yang membuat premium adalah kerapian, konsistensi desain, dan pengalaman menerima produk yang aman. Banyak UMKM sukses memakai kemasan standar tetapi label dan finishing-nya rapi.

Lebih penting desain atau fungsi?

Fungsi dulu. Desain bagus tapi mudah bocor akan merusak reputasi. Setelah fungsi aman, barulah desain dipoles agar lebih menjual.

Bagaimana menghindari keyword stuffing saat promosi?

Gunakan bahasa natural, fokus pada manfaat, dan pakai variasi kata. Di artikel ini kata kunci kemasan produk UMKM dipakai secukupnya agar tetap enak dibaca.

Penutup: Kemasan Bukan Biaya, tapi Investasi

Kalau dikelola dengan benar, kemasan adalah alat pemasaran yang kuat. Ia membantu produk terlihat meyakinkan, menambah nilai, menurunkan risiko komplain, dan membuat pembeli lebih mudah mengingat brand-mu. Fokus pada fungsi, kejelasan informasi, dan konsistensi desain—lalu tingkatkan kualitas secara bertahap sesuai kemampuan.

Baca Juga: Branding Lokal Produk UMKM: Cara Angkat Keunikan Daerah

Mulailah dari perubahan kecil yang paling berdampak: rapikan label, pilih bahan yang lebih aman, dan pastikan pengalaman unboxing menyenangkan. Dengan begitu, kemasan produk UMKM kamu akan benar-benar bekerja: menarik perhatian, membangun kepercayaan, dan mendorong penjualan berulang.

Leave a Comment

Rating

Uji Kompetensi metodologi, penguasaan materi pelatihan dan praktek penyampaian modul (delivery). Selanjutnya untuk memperoleh akreditasi (Sertifikat Akreditasi Fasilitator), fasilitator mendelivery modul yang dikuasai minimal 2 kali dalam pelatihan yang diselenggarakan oleh Mitra Penyelenggara Pelatihan, dengan nilai minimal 70% atau rating 3,5 dengan range antara 1 – 5. Setiap penugasan pelatih oleh Mitra Penyelenggara Pelatihan telah disertai persetujuan dari LSP UMKM & WI.

Bimbingan

Dalam bimbingan ini dijelaskan alur Uji Kompetensi yang dilaksanakan oleh LSP UMKM & WI . Kemudian, dilanjutkan dengan pendaftaran  untuk mendapatkan akun yang akan digunakan dalam sistem uji kompetensi LSP UMKM & WI . Pada sesi berikutnya, para peserta akan mendapat bimbingan untuk menggunakan sistem uji kompetensi tersebut hingga proses penilaian.

Sertifikasi

Sertifikasi Kompetensi Kerja adalah Proses pemberian sertifikat kompetensi yang dilakukan secara sistematis dan objektif melalui uji kompetensi yang mengacu kepada standar kompetensi. Terkait dengan Standard Kompetensi Kerja telah ditetapkan Standard Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Pengawas Syariah berdasarkan Keputusan Menteri Ketenagakerjaan RI Nomor 25 Tahun 2017. Sedangkan SKKNI itu sendiri adalah Rumusan kemampuan kerja yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan/atau keahlian serta sikap kerja yang relevan dengan pelaksanaan tugas dan syarat jabatan yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

SERTIFIKASI PENILAIAN DIAKUI INTERNASIONAL

Dengan lisensi resmi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi atau (BNSP) yang
dibentuk  Pemerintah  untuk melaksanakan ketentuan Pasal 18 ayat (5) Undang-Undang
Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, Lembaga Sertifikasi Profesi atau (LSP)
menjamin mutu kompetensi dan pelatihan Tenaga Kerja pada seluruh sektor bidang profesi
di seluruh Indonesia.

Sertifikat yang akan Anda dapatkan juga akan diakui oleh dunia Internasional, sehingga
kualitasnya tidak perlu diragukan lagi. Karena dengan memiliki sertifikasi profesi dari LSP
yang telah mendapatkan lisensi resmi dari BNSP, Anda mempunyai sebuah bukti kuat
bahwa Anda memang berkompeten dalam profesi yang Anda geluti. Itu juga memastikan
bahwa Anda mempunyai kemampuan yang mumpuni sebagai seorang profesional.

Sertifikasi kompetensi ini bisa Anda dapatkan melalui pelatihan dari LSP yang mempunyai
lisensi resmi dari BNSP. Dan LSP UMKM & WI, merupakan salah satu LSP yang bisa
membantu Anda untuk mewujudkan keinginan Anda dalam mendapatkan sertifikasi profesi
tersebut.

SERTIFIKASI KOMPETISI KASIR RETAIL

Sumber daya manusia (SDM) memainkan peranan yang sangat vital dalam menentukan
keberhasilan operasional toko. Sumber Daya Manusia (SDM) atau pengelola toko haruslah
mumpuni dan cekatan. Implementasi sistem komputerisasi yang semakin canggih dan
keharusan untuk menjalankan rangkap atau fungsi pekerjaan (multi-tasking) maka karyawan
toko juga harus memiliki kemampuan berhitung (matematika) yang baik, dan kemampuan
untuk bias berbahasa asing tentunya (minimal Bahasa Inggris).

Untuk itu pentingnya melakukan pelatihan Sumber Daya Manusia (SDM) sebelum terjun
langsung ke dalam dunia kerja. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas Sumber
Daya Manusia (SDM) itu sendiri. Apabila Sumber Daya Manusia (SDM) telah tersetifikasi,
selain dapat menentukan keberhasilan toko, para Sumber Daya Manusia (SDM) tersebut
diharapkan mampu untuk bersaing dengan para tenaga kerja asing.

Perlu diingat bahwa bisnis minimarket ataupun retail dan toko adalah bisnis penjualan.
Jadi,segenap karyawan harus memiliki kualitas internal yang sejalan dan mendukung
peranannya sebagai penjual. Kualitas ini meliputi kepribadian (threat), sikap, (attitude),
motivasi dan nilai-nilai (values). Untuk itu pentingnya melakukan pelatihan Sumber Daya
Manusia (SDM).

JADIKAN SERTIFIKASI PENGELOLAAN UKM

Pada era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) ini, kompetensi menjadi syarat yang harus
dipenuhi untuk meningkatkan daya saing bangsa. Sejalan dengan itu, Kementerian Koperasi
dan UKM RI, terus berupaya meningkatkan kompetensi UMKM, salah satunya melalui
kegiatan sertifikasi kompetensi UKM. Kegiatan ini berupa memfasilitasi pelatihan serta
sertifikasi kompetensi bagi para pelaku UMKM.

Tujuannya untuk meningkatkan daya saing, mengingat pemberlakuan MEA akan sangat
berpengaruh kepada masuknya tenaga  kerja  asing yang mengakibatkan persaingan
menjadi semakin ketat. Standarisasi dan sertifikasi ini menjadi sangat penting diketahui oleh
para pelaku UKM. Karena selain meningkatkan daya saing, standarisasi adalah upaya untuk
menjaga kualitas produk.

Sertifikasi ini juga berguna sebagai bentuk penyesuaian dan upaya UKM untuk
menunjukkan kepada dunia jika telah memiliki standar tertentu, hingga pengembangan
usaha dapat dikembangkan menjadi lebih luas. Apabila produk telah tersertifikasi maka
konsumen akan semakin yakin, karena produk tersebut sudah pasti terjamin. Itulah alasan
mengapa standarisasi dan sertifikasi saat ini menjadi sangat penting diketahui oleh para
pelaku UKM.