Di tengah persaingan marketplace, biaya bahan baku yang naik-turun, dan konsumen yang makin sensitif terhadap nilai, strategi harga produk UMKM bukan sekadar soal “lebih murah dari kompetitor”. Harga adalah sinyal kualitas, alat positioning, sekaligus pengungkit arus kas. Artikel ini membahas cara menyusun strategi pricing yang realistis untuk UMKM Indonesia—mulai dari menghitung HPP dengan rapi, membaca perilaku pelanggan, sampai menguji harga tanpa merusak brand.
Kalau kamu pernah merasa “harga sudah dinaikkan sedikit saja, order langsung turun”, atau sebaliknya “jualan ramai tapi kok laba tipis”, besar kemungkinan masalahnya bukan pada angka harga saja, melainkan pada sistem penetapan harga yang belum terstruktur. Mari kita susun langkahnya dengan pendekatan praktis dan mudah diterapkan.
Mengapa Pricing UMKM Sering Jadi Sumber Masalah?
UMKM biasanya menghadapi beberapa tantangan khas: pencatatan biaya belum detail, perubahan harga bahan baku tidak cepat di-update, diskon diberikan tanpa hitung dampak margin, serta perbandingan harga di platform digital yang sangat transparan. Akibatnya, pemilik usaha sering mengambil keputusan berdasarkan “rasa-rasanya”, bukan data.
Padahal, keputusan harga memengaruhi banyak hal sekaligus: persepsi merek, volume penjualan, kemampuan membayar operasional, dan ruang untuk promosi. Dengan kerangka kerja yang benar, strategi harga produk UMKM bisa membantu usaha tetap kompetitif tanpa harus terjebak perang harga.

Fondasi Wajib: Hitung HPP dengan Akurat
Langkah pertama sebelum bicara kompetitor adalah memastikan kamu tahu biaya sebenarnya per produk. HPP (Harga Pokok Produksi) bukan cuma bahan baku. Untuk UMKM, HPP sebaiknya mencakup:
- Bahan baku langsung: tepung, kain, resin, kopi, dan sejenisnya.
- Tenaga kerja langsung: upah produksi per unit atau per batch.
- Overhead produksi: listrik, gas, penyusutan alat, kemasan, dan bahan penolong.
- Biaya operasional terkait penjualan: fee marketplace, ongkir subsidi, komisi reseller, biaya payment gateway.
Kesalahan paling umum adalah mengabaikan overhead dan fee platform. Misalnya, margin terlihat “aman” di Excel, tetapi begitu dipotong fee marketplace dan biaya packing, laba riil tinggal sedikit. Jika HPP sudah jelas, kamu bisa menentukan harga dengan percaya diri dan konsisten.
Tips Praktis Menghitung HPP untuk Produk Batch
Jika kamu memproduksi dalam batch (misalnya 50 botol sambal), hitung total biaya batch lalu bagi dengan jumlah unit yang layak jual. Jangan lupa memperhitungkan susut (produk gagal, pecah, atau tidak lolos QC). Susut 3–5% terdengar kecil, tetapi jika diabaikan akan menggerus margin secara diam-diam.
Kenali 3 Pendekatan Utama Penetapan Harga
Secara umum, harga bisa ditentukan lewat tiga pendekatan besar. Dalam praktik, UMKM sering menggabungkan ketiganya agar lebih stabil.
1) Cost-Plus Pricing: HPP + Margin
Metode ini paling mudah: harga = HPP + margin. Cocok untuk produk yang biayanya relatif stabil, seperti jasa laundry kiloan atau produk kerajinan dengan bahan baku tidak terlalu fluktuatif. Risiko utamanya: kalau kamu hanya fokus pada biaya, kamu bisa melewatkan nilai (value) yang dirasakan pelanggan, sehingga harga jadi terlalu rendah atau justru terlalu tinggi dibanding pasar.
2) Competitor-Based Pricing: Mengacu Harga Pasar
Di marketplace, pelanggan bisa membandingkan harga dalam hitungan detik. Mengacu harga kompetitor membantu kamu menentukan rentang yang “masuk akal”. Namun, hati-hati: meniru harga pesaing tanpa memahami struktur biaya sendiri bisa membuat kamu jual rugi. Pendekatan ini sebaiknya dipakai sebagai referensi, bukan patokan tunggal.
3) Value-Based Pricing: Harga Berdasarkan Nilai
Value-based pricing melihat manfaat yang dirasakan pelanggan. Contoh: sambal rumahan dengan rasa autentik, bahan premium, dan kemasan higienis bisa dihargai lebih tinggi daripada sambal biasa—asal kamu mampu mengomunikasikan nilai tersebut. Untuk banyak UMKM, pendekatan ini adalah “jalan keluar” dari perang harga, karena kamu tidak selalu harus termurah untuk menang.
Riset Pasar Mini yang Bisa Dilakukan UMKM
Riset pasar tidak harus mahal. Kamu bisa mulai dengan cara sederhana berikut:
- Audit kompetitor: catat 10 produk sejenis, harga, ukuran, rating, dan USP (keunggulan utama).
- Wawancara pelanggan: tanyakan alasan mereka membeli, apa yang mereka nilai paling penting, dan batas harga nyaman.
- Analisis ulasan: cek review kompetitor untuk menemukan “pain point” yang bisa kamu jawab dengan produk dan harga.
- Bandingkan isi/gramasi: pastikan perbandingan setara (misalnya per 100 gram), bukan sekadar angka di listing.
Hasil riset ini membantu kamu menentukan posisi: apakah mau unggul di harga, unggul di kualitas, atau unggul di layanan/pengalaman.
Strategi Pricing agar Tetap Kompetitif Tanpa Perang Harga
1) Tentukan “Rentang Aman” Harga
Buat tiga angka: harga minimum (tidak boleh rugi), harga target (sesuai margin ideal), dan harga premium (jika nilai brand kuat). Rentang ini membuat keputusan diskon dan promo lebih terkontrol. Banyak pemilik usaha menurunkan harga saat sepi tanpa sadar melewati batas minimum.
2) Gunakan Price Ladder (Tingkat Harga)
Price ladder adalah variasi paket/ukuran sehingga pelanggan punya pilihan. Misalnya produk minuman: ukuran 250 ml, 500 ml, dan 1 liter. Dengan pilihan ini, pelanggan yang sensitif harga bisa memilih ukuran kecil, sementara pelanggan yang mencari value bisa mengambil ukuran besar. Strategi ini sering menaikkan rata-rata nilai transaksi.
3) Bundling untuk Menambah Nilai, Bukan Sekadar Diskon
Bundling efektif untuk produk yang saling melengkapi: kopi + gula aren, skincare + toner, atau keripik + sambal cocol. Alih-alih memberi diskon besar pada satu produk, kamu membuat paket dengan harga yang terasa lebih hemat, tetapi margin tetap terjaga karena komposisinya kamu atur.
4) Terapkan Psychological Pricing Secukupnya
Angka seperti 19.900 atau 99.000 masih relevan untuk banyak kategori. Namun gunakan dengan bijak—untuk produk premium, angka bulat seperti 120.000 bisa terlihat lebih “berkelas”. Sesuaikan dengan positioning brand dan perilaku pembeli.
5) Buat Aturan Diskon yang Jelas
Diskon yang sehat adalah diskon yang direncanakan. Tetapkan aturan: kapan diskon diberikan, berapa maksimal diskon, dan tujuan diskon (menghabiskan stok, akuisisi pelanggan, atau menaikkan repeat order). Jangan “asal potong” karena kompetitor sedang promo.
6) Masukkan Biaya Layanan dan Fee Platform Sejak Awal
Jika kamu jual di marketplace, hitung fee admin, biaya iklan, serta potongan voucher. Banyak UMKM mengira harga kompetitif sudah cukup, padahal margin habis di biaya platform. Dengan memasukkan biaya ini dari awal, strategi harga produk UMKM menjadi lebih tahan terhadap perubahan kebijakan platform.
7) Bedakan Harga Online vs Offline dengan Alasan yang Masuk Akal
Perbedaan harga bisa diterapkan bila ada perbedaan biaya dan layanan. Online biasanya ada biaya platform dan packing, sedangkan offline ada biaya display, sewa, atau konsinyasi. Komunikasikan dengan transparan, misalnya dengan memberikan bonus kecil di offline atau menawarkan paket hemat di online.
8) Fokus pada Keunggulan yang Sulit Ditiru
Jika produk kamu punya cerita, kualitas bahan, sertifikasi, atau proses produksi yang lebih rapi, angkat itu sebagai pembenaran harga. Semakin jelas diferensiasi, semakin kecil tekanan untuk menurunkan harga. Ini inti dari strategi kompetitif yang berkelanjutan.
Konsep Penting: Elastisitas Permintaan
Dalam ekonomi, perubahan harga tidak selalu berdampak sama pada semua produk. Produk kebutuhan harian cenderung lebih stabil, sedangkan produk gaya hidup bisa lebih sensitif. Memahami elastisitas permintaan membantu kamu memprediksi: kapan kenaikan harga masih aman, dan kapan perlu ditahan atau dikompensasi dengan value.
Studi Kasus Mini: Tiga UMKM, Tiga Cara Pricing
1) UMKM Kuliner: Sambal Botolan
Sambal dengan bahan premium (cabai segar, minyak berkualitas, tanpa pengawet) bisa bermain di value-based pricing. Kuncinya: edukasi pasar lewat konten, testimoni, dan jaminan kebersihan. Harga bukan hanya angka, tetapi janji kualitas.
2) UMKM Fashion: Kaos Lokal
Untuk kaos, pasar sangat kompetitif. Strategi yang sering berhasil adalah price ladder (variasi bahan/gramasi) dan bundling (paket 2–3 pcs). Diskon besar di satu produk sering merusak persepsi, jadi lebih aman menawarkan bonus atau paket.
3) UMKM Kerajinan: Produk Custom
Produk custom sebaiknya tidak disamakan dengan produk massal. Buat struktur harga berdasarkan kompleksitas desain, lama pengerjaan, dan bahan. Sertakan opsi add-on (misalnya gift box, kartu ucapan, atau ukiran nama) agar pelanggan bisa menambah nilai sesuai kebutuhan.
Langkah Sistematis Menyusun Strategi Harga Produk UMKM
Agar tidak berubah-ubah setiap minggu, gunakan alur berikut sebagai SOP sederhana:
- Rapikan HPP per varian produk dan update minimal bulanan.
- Tentukan margin minimum yang masih sehat untuk operasional dan pengembangan.
- Tetapkan posisi brand: ekonomis, mid-range, atau premium.
- Riset kompetitor untuk mengetahui rentang pasar yang wajar.
- Pilih strategi utama (cost-plus, competitor-based, atau value-based) dan kombinasikan bila perlu.
- Siapkan skenario promo beserta batas diskon.
- Uji harga dengan A/B testing sederhana: dua rentang harga pada periode berbeda, lalu bandingkan margin dan konversi.
- Monitoring: pantau repeat order, komplain, rating, dan biaya iklan.
Dengan langkah ini, kamu tidak hanya mengejar “ramai”, tetapi juga memastikan bisnis tetap menghasilkan laba yang bisa diputar kembali.
A/B Testing Harga: Cara Aman Menguji Tanpa Merusak Brand
Uji harga tidak harus ekstrem. Kamu bisa mencoba:
- Menaikkan harga 3–5% pada varian tertentu yang paling kuat permintaannya.
- Menawarkan dua paket: reguler dan premium, dengan bonus layanan di paket premium.
- Menguji ongkir: harga produk tetap, tetapi subsidi ongkir berbeda untuk melihat dampaknya pada konversi.
Catat hasilnya: bukan hanya total penjualan, tetapi juga profit bersih. Banyak UMKM terjebak mengejar omzet, padahal arus kas dan margin adalah napas usaha.
Kesalahan Umum yang Membuat Harga Terasa “Tidak Kompetitif”
- Terlalu sering diskon hingga pelanggan menunggu promo.
- Tidak konsisten ukuran/isi sehingga pembandingannya tidak adil.
- Menurunkan harga saat sepi tanpa strategi retensi atau diferensiasi.
- Harga tidak selaras dengan branding (misal tampilan premium tapi harga terlalu murah, atau sebaliknya).
- Komunikasi nilai lemah: deskripsi produk minim, foto kurang meyakinkan, tidak ada bukti kualitas.
Perkuat Nilai agar Harga Terasa Masuk Akal
Kalau pelanggan merasa “worth it”, harga tidak lagi jadi satu-satunya pertimbangan. Beberapa cara memperkuat value:
- Perbaiki visual: foto produk jelas, konsisten, dan menunjukkan detail kualitas.
- Garansi sederhana: misalnya “barang rusak saat pengiriman, ganti baru”.
- Cerita brand: asal bahan, proses produksi, atau dampak sosial (memberdayakan warga sekitar).
- Kecepatan layanan: respon cepat dan pengiriman rapi bisa jadi pembeda.
Penetapan harga yang baik (atau penetapan harga dalam istilah umum) selalu berjalan beriringan dengan cara kamu menyampaikan nilai tersebut.
Mengelola Harga untuk Reseller, Grosir, dan Repeat Order
Banyak UMKM berkembang lewat reseller atau penjualan grosir. Tantangannya: kalau selisih harga terlalu tipis, reseller tidak semangat; kalau terlalu lebar, kamu yang tertekan di produksi. Buatlah struktur bertingkat yang sederhana, misalnya:
- Harga retail: untuk pembelian satuan, fokus pada margin dan pengalaman.
- Harga reseller: untuk pembelian minimal tertentu (misalnya 10–20 pcs), dengan potongan yang masih aman.
- Harga grosir: untuk pembelian lebih besar, biasanya disertai syarat pembayaran atau jadwal produksi.
Untuk menjaga arus kas, pertimbangkan aturan pembayaran: DP sebelum produksi, termin pelunasan, atau diskon kecil untuk pembayaran penuh di awal. Dengan begitu, kamu tidak “membiayai” stok reseller dari kantong sendiri.
Perhitungkan Musim, Tren, dan Biaya Tak Terduga
Harga yang kompetitif juga perlu adaptif. Produk musiman (kue lebaran, hampers, seragam sekolah) sering mengalami lonjakan permintaan dalam periode pendek. Alih-alih menaikkan harga secara ekstrem, lebih aman menyiapkan:
- Paket musiman (misalnya bundling hampers) yang meningkatkan nilai tanpa terlihat “mendadak mahal”.
- Kuota produksi: batasi pesanan harian agar kualitas terjaga, lalu gunakan “slot produksi” sebagai alasan yang elegan untuk harga premium.
- Buffer biaya: sisihkan persentase kecil untuk risiko bahan baku naik, retur, atau kerusakan saat kirim.
Jika kamu sering terkena biaya tak terduga, cek ulang titik kebocoran: kemasan terlalu mahal, ongkir sering disubsidi, atau iklan digital tidak terukur. Kadang solusi “pricing” justru datang dari efisiensi operasional.
Strategi Naik Harga Tanpa Membuat Pelanggan Pergi
Naik harga itu wajar, terutama ketika kualitas meningkat atau biaya produksi naik. Agar pelanggan tetap nyaman, lakukan tiga hal: (1) naikkan bertahap, (2) komunikasikan manfaatnya, dan (3) sediakan pilihan yang lebih terjangkau.
Contohnya, kamu bisa mempertahankan harga lama untuk ukuran kecil, lalu menaikkan harga pada ukuran besar atau varian premium. Kamu juga bisa menambah value kecil yang terasa: segel keamanan, kartu ucapan, bonus sampel, atau layanan customer service yang lebih cepat. Ketika pelanggan merasakan peningkatan, kenaikan harga tidak terasa “sepihak”.
Checklist Cepat Sebelum Mengubah Harga
- Apakah HPP sudah update (minimal bulan ini)?
- Apakah harga baru masih berada di rentang pasar yang wajar?
- Apakah margin bersih setelah fee platform masih sehat?
- Apakah ada diferensiasi yang jelas dibanding kompetitor?
- Apakah materi listing (foto, deskripsi, testimoni) cukup kuat untuk mendukung harga?
Checklist sederhana ini membantu keputusan harga lebih tenang. Konsistensi adalah kunci: pelanggan lebih percaya pada brand yang jelas posisinya daripada brand yang harganya berubah-ubah tanpa pola.
FAQ: Pertanyaan yang Sering Muncul tentang Pricing UMKM
Apakah harus selalu lebih murah dari kompetitor?
Tidak. Kamu hanya perlu terlihat “lebih bernilai” bagi segmen yang kamu incar. Bisa lewat kualitas, layanan, kemasan, atau pengalaman. Harga murah tanpa diferensiasi cenderung rapuh.
Berapa margin yang ideal untuk UMKM?
Tergantung kategori. Produk makanan cepat saji biasanya punya margin berbeda dengan produk craft atau fashion. Yang penting, margin harus menutup biaya operasional, biaya pemasaran, serta memberi ruang untuk perkembangan. Mulailah dari margin minimum yang realistis, lalu tingkatkan lewat efisiensi dan value.
Kapan waktu yang tepat menaikkan harga?
Saat HPP naik signifikan, permintaan stabil, atau kamu menambah nilai (misalnya kemasan lebih baik). Kenaikan bertahap dan komunikasi yang rapi biasanya lebih diterima pelanggan.
Bagaimana jika pelanggan protes saat harga naik?
Siapkan alasan yang jujur dan fokus pada value: kualitas bahan, higienitas, layanan, atau peningkatan kemasan. Kamu juga bisa menawarkan pilihan ukuran/paket yang lebih terjangkau agar pelanggan tetap punya opsi.
Baca Juga: Bisnis Print on Demand untuk UMKM Indonesia: Panduan Lengkap
Pada akhirnya, strategi harga produk UMKM yang paling kuat adalah yang seimbang: menghitung biaya dengan disiplin, memahami pasar, dan membangun nilai yang membuat pelanggan kembali membeli. Dengan SOP pricing yang jelas, kamu bisa tetap kompetitif tanpa mengorbankan margin—dan bisnis pun punya ruang untuk bertumbuh lebih sehat dari waktu ke waktu.
